Blog Archive

RSS

About Me

Foto saya
segalanya jadi indah saat datang tepat pada waktunya

FanFic #7

CHAPTER 5

Ata tampak kesusahan dengan setumpuk buku yang baru saja dipinjamnya di perpustakaan utama lantai 3 kampus CoenHwa.Ia berjalan tergesa-gesa.Karena beberapa jam lagi,kelas akan segera usai.Dan itu artinya waktu untuk menyerahkan kartu tanda mahasiswanya sebagai jaminan untuknya minjam buku-buku kampus bakal segera habis,kalau aja dia telat dikit.Beberpa mahasiswa dari jurusan dan kelas berbeda tampak telah berjalan meninggalkan ruangan satu per satu.Dengan suara riuh,bikin ata menambah kecepatan langkahnya.
Seorang laki-laki yang baru saja keluar dari sebuah ruangan juga tampak melenggang berjalan.Dengan gaya santainya,sebuah topi pets yang dipasang miring,kaos putih santai,celana jeans tiga per empat,lengkap dengan mp4 player yang terpasang di telinganya,membuatnya semakin terlihat mahasiswa dari jurusan mana ia terlihat. Sebuah tas tangan berukuran besar,di bawanya dengan sebelah tangan di atas pundaknya.
Laki-laki itu berjalan berlawanan arah.Tidak sadar,kalau dari arah yang berlawanan pulah,setengah berlari seorang wanita tampak tergesa-gesa tanpa menoleh sedikitpun,dan akhirnya...
“Brakkk !!!”
Buku-buku terlempar.Begitu juga dengan tas yang disandangnya.Laki-laki itu terjatuh.
Begitu juga dengan wanita yang tak lain adalah ata,tampak meringis.Tubuhnya terjatuh ke belakang.Tangannya merasa sakit akibat menyangga agar tubuhnya tak terjatuh sepenuhnya.
“Lo kalo jalan,liat-liat donk.Gag tau apa,ada orang yang juga gunain nih jalan”
Ucap laki-laki itu sambil membersihkan siku serta celananya yang terkena debu,padahal sebenarnya gak terlalu kotor-kotor amat.
Ata mendongak ke atas.Mampus deh gue,dah nabrak nih orang.
“Duh,sorry-sorry..tadi gue buru-buru.sekali lagi maap” ujar ata sembari berdiri dan membungkukkan badannya.
Betapa kagetnya laki-laki itu,ketika melihat ata berdiri dan nunjukkin wajahnya.
Ini kan,cewek yang gue liat kemaren,batinnya.
Ata segera mengambil satu per satu bukunya yang berhamburan.Berikut tas milik laki-laki yang ditabraknya ini,yang sebagian isinya ikut keluar.
“Nih,tas lo.Gue minta maap.Gue jamin gak ada yang hilang,ato rusak” ucapnya sembari memberikannya pada laki-laki yang masih tampak bengong itu.
“Gue sekarang buru-buru.Jadi,kalo lo mau minta ganti rugi atau pertanggung jawaban ke gue,gak sekarang.”
Ucap ata sembari berlalu meninggalkan laki-laki itu.Sebenrnya ada hal lain yang ingin diucapkan laki-laki itu,tapi keburu ata udah cabut duluan.
“Hey tunggu bentar” teriaknya sambil melambaikan tangan ke arah ata,yang sudah berjalan beberapa langkah darinya.
Ata meoleh sesaat,sambil tetap berjalan.
“Gue anak sinematografi.lo bisa hubungin gue di sana” teriak ata dari kejauhan.
Terlambat,ata sudah menghilang dengan cepat begitu tiba di belokan.
Laki-laki itu menyaksikan kepergian ata.
Bisa jadi ia tak salah terka,
Tapi...oh,shit !. Ditatapnya nelangsa ke bwah lantai.Mp4nya rusak terinjak wanita yang menabraknya tadi.
---
Minho adalah teman terbaik ata,sekaligus orang korea yang menyenangkan yang pernah ditemuinya selain key.Sebelumnya,jauh-jauh hari,ata gak pernah nyangka bahwa dia akan punya sahabat dari beda negara,yang beda pula budaya dengan dirinya.Dan amazingnya lagi,both of them is an artist !.Kebayang donk,di indonesia aja,seumur-umur doski belum pernah ngobrol begitu dekat mpe curhat-curhat gitu ma salah satu artis di tempat kerjanya.Yang ada,ma nico alias nicholas saputra,artist tercakep indonesia versi ata,dan itupun Cuma bentar doang,and sekilas,waktu ata gak sengaja lewat depan nico,trus diberhentiin,gara-gara nico minta bantuan negecek script pas doi lagi proses reading di sebuah syuting film terbarunya.Dan anyway,itu berjalan tanpa sempat ata ditanyain who are you,girls...well,poor ata !
Dan sekarang,alamat mimpi dari mana,ata bisa ditakdirin ketemu ma dua makhluk,yang gag Cuma terkenal,cakep,empatif banget lagi.Sebenarnya,dua yang pertama_itu Cuma bonus doang.Gag tau kenapa,sebenarnya asli,ata lebih suka temenan sama orang-orang biasa aja,standar.Ya standar kehidupannya,atau standar cakepnya.Biar gag kena gossip.Kayak yang sekarang lagi terjadi neh.
Ceritanya gini,entah sejak kapan persisnya,seminggu terakhir ini deh kayaknya_ata denger desas desus,beberapa orang yang gag sengaja dilewatinnya,pas ata lagi jalan di salah satu pelataran kampusnya.Nah,mereka mungkin tahu lah ya,kalau ata emang bukan asli korea,dan tentu saja gak gitu terlalu gape banget nguasain percakapan korea,hingga bahasa-bahasa slanknya alias bahasa gaulnya anak metropolitan seoul.
Well,tapi fortunatelynya,mereka juga gag tahu,kalau sebenarnya ata yang sekarang udah beda banget ma ata yang dulu,yang gag bisa ngomong apa-apa,apa lagi baca hangul.Dan,next pada suatu sore,pas jam kuliah baru aja berakhir,dan ata lagi jalankeluar kelas,tiba-tiba...
“Eh,itu kan si nona indonesia itu...ternyata orangnya biasa banget ya”
Bisik seorang mahasiswa anak dari jurusan tetangga,Cuma ata gag tahu dari mana tepatnya tuh cewek bermata sipit khas orang korea asli berasal.Come on guys,lu peratiin dan garis bawahin kata “BIASA”.
“Apa gue bilang.Lo liat dan mikir sendiri.Gag habis pikir deh,kok bisa c sekeren dan sebeken key ma minho bisa deket ma tuh orang.Kalau gag ada something-somethingya”
Nah,kalau yang kali ini ngomong,okay lha secara phisicly lebih oke dibanding speaker pertama tadi.Dengan bola matanya yang gede,stereotip orang cakep versi korea.Hanya saja,ata yakin banget,kalau bentuk matanya itu pasti hasil dari make over pisau bedah.Alias oplas,a.ka operasi plastik,seperti yang santer terjadi ma orang-orang korea hampir kebanyakan.
“Lo pada liat aja sendiri.Dia aja gag ngeh dengan omongan kita sekarang.Itu artinya,tuh anak bego banget kan ??Kita kata-katain apa aja,dia gak bakal marah kok.Hahahaha”
Yang ini pembicara ketiga,dan dibanding kedua orang lainnya,yang ketiga inilah,bikin ata ngeh,kalau ternyata dirinya lah yang dimaksud dalam pembicaraan itu,akibat saking gedenya tuh suaranya.Bikin kedua temennya sempat bilang “ssttt...”,coz orang-orang sekitar mereka,yang ngerti bahasa korea,dan kebetulan lagi jalan di sekitar situ,pada noleh ke mereka.Termasuk ata.
Well,dengar semua itu,ata ngerasa dilema banget.Di satu sisi,at least ata ngerasa bersyukur banget,ketemu ma hyo ri,dan udah diajarin buat berbahasa korea dengan cepat dan mudah,alhasil baru satu minggu memulai les privat bahasanya bareng lee hyo ri,ata udah sedikit banyak bisa ngerti orang-orang pada lagi ngomongin apa,meskipun masih perlu bawa kamus ke mana-mana.Bersyukur banget.
But di sisi lain,ata jadi ngeras sadar,dan dapat sebuah kesimpulan bahwa mau di indonesia,mau di korea kek,yang namanya orang syirik itu,tetap ada aja!.Nobody’s perfect,guys.Para hanguk-hanguk itu pun,ternyata masih juga suka yang namanya nge-gossip.Padahal,seandainya mereka tahu,proses kenalnya ata bisa ketemu ma dua bujug bunek dunia entertaint korea itu pun,gag lantas terjadi gitu aja!. Perlu yang namanya,salah masuk lokasi syuting orang lha,dimarahin ma stutradara pas pertama kali nginjakkin kaki di korea,mpe harus begadang ngbrol bedua depan pintu gedung administrasi CoenHwa,padahal waktu itu ata belum kenal seorang key !Yang bisa aja,key berubah jadi orang jahat yang ketemu mangsa di tengah malam-malam buta.Everthing be possible,kan guys ??.
Oke,whatever itu,yang jelas,ata gag seperti yang dua amoi-amoi itu ucapin.Apalagi kalau sampai yang dimaksud sama mereka “something-something” itu adalah ata pake guna-guna,or ata maen pelet wat deket ma key dan minho,itu SALAH BESAR ! Big Mistake !.Kenapa coba,mpe jauh-jauh sampe korea,sekalian aja ke hollywood gitu,peletin si ruppert grint,demenannya ata yang maen di serial harrpott itu.
Benar-benar gag habis pikir.That’s way juga,kenapa pas denger itu ata gak nangis atau mencak-mencak gitu aja.Karena,who cares...gag ada pentongnya juga wat doski nyari sensasi di kampus CoenHwa,yang kesemuanya adalah para pelaku seni,seniman...yang notabene pada cuek-cuek itu,sa bodo teuing ma hal-hal yang bagi mereka gag penting wat diurusin itu.Dan ata,sedikit banyak juga punya paham kayak gitu.Titik.
So,simple kan ?
Anyway,tapi setidaknya,sekarang,bagaimanapun sebagai orang yang sekarang ada di lingkaran kehidupannya key dan minho,sedikit banyak, ata mesti sadar diri juga akan kehadiran para fans-fans fanatiknya mereka,yang bisa saja bersikap possesif atau kalau gak antipatif ma siapa saja yang dirasa bakal ngeganti posisi mereka sebagai “cewek” nya shinee.

...
“kamu mau ini ?”
Tawar minho sambil menyerahkan sebuah kaleng minuman bersoda di suatu petang,pas minho ngajak ata ke sebuah jembatan di pusat kota seoul,yang kalau malam indah banget dengan lampu-lampu penerang jalannya.
“Halal gak ?” tanya ata penuh selidik.
Minho tertawa.Di putar-putarnya kaleng bergambar buah apel,yang baru saja di belinya di sebuah mini market,sepulangnya dari lokasi syuting tadi sore.Entah apa maksudnya melakukan hal yang barusan.
“Gag ada tulisan babi atau alkoholnya tuh”
Jawab minho sekenanya.Membuat ata,tanpa pikir panjang lagi_karena emang udah ngerasa haus banget,langsung merebut minuman kaleng dari tangan minho,meskipun matanya gag bisa lepas dari minho,memastikan kalau gak ada sesuatu yang mencurigakan dari ucapannya barusan.
Kali ini minho milih untuk Cuma tersenyum.Untuk selanjutnya mengacak pelan kepala ata,bikin rambut ata jadi semakin terlihat kusut.
“Ya aku tahulah kamu seorang muslim,yang sedikit aware ma hal-hal kayak gini”
Jelasnya,bikin ata jadi ngerasa gag enak udah bersikap kayak barusan.
Ata menenggak habis semua isi minuman kaleng itu.Dan untuk selanjutnya menyimpan sisa kalengnya ke dalam tas ranselnya.
“Kamu nyimpan kaleng itu buat kenang-kenangan ya ? sebagai tanda kalau pernah dikasih minum ma minho shinee ??” minho bertanya ke ata dengan tampang setengah serius,tapi di mata ata udah kelihatan serius banget.Abiz,yang ngomong barusan seorang minho,yang kesehariannya “autis” banget itu.
Ata diam.Tapi kemudian dia sadar,apa sebenarnya yang minho maksud begitu detik sebelumnya,minho ketawa ngakak,gak kayak biasanya.
“Sialan lo.Ya gak la...Gini-gini,meski datang dari negara di mana membuang sampah itu adalah sebuah kebiasaan addicted,gak lantas bikin gue nerapin hal yang sama di tempat orang tau” kilah ata cuek.Baginya,temenan ma orang-orang “jaim” korea ini,udah gak mempan lagi wat ata milih jadi jaim juga.
“Bisa kena denda gue”lanjutnya,bikin minho jadi mikir “iya” juga ya.
Minho menarik nafasnya pelan.Baru kali ini dia ngerasa ketemu cewek yang cueknya minta ampun.Kebanyakan,dari wanita-wanita yang ditemuinya,adalah tipikal yang irit sikap dan omongan.Yang justru bikin dia gak betah berlama-lama ngobrol ma mereka.
“Kamu gak kangen ma keluargamu di indonesia ?” tanya minho tiba-tiba.
Ata menoleh ke minho.Dan kemudian mengalihkan pandangannya jauh ke depan.
Kota seoul pada kali itu terlihat sedikit lapang bagi ata.Dengan siluet sunset yang membelah kota eksotis itu dengan sebegitu indahnya.Seoul adalah impiannya sejak dulu,selain tokyo dan london.Kota metropolitan yang sistem perkotaannya bagus banget.Ata jadi ingat dengan kuliah sarjananya di bidang perencanaan kota yang dua tahun lalu ditamatkannya.Dan membuat nama belakangnya jadi sedikit lebih panjang,oshie atami, ST.
“Kenapa lo tiba-tiba nanya kayak tadi ?” tanya balik ata,yang sebenarnya bukan itu jawaban yang di ingin sampaikan.
“Gak apa-apa,Cuma pengen nanya aja.Kadang,aku jadi mikir,masa c perempuan kayak kamu,yang milih untuk jauh-jauh menuntut ilmu ke korea,jauh dari sanak keluarga,sendirian pula..gak ngerasa homesick sama sekali.Ya..meskipun,aku tahu,kamu beda kayak cewek kebanyakan.Hal kayak gini mungkin bukan baru pertama kali kamu rasain”jelas minho,sambil ikut-ikutan mandang jauh ke depan.Cuma bedanya,sebenarnya minho gak lagi ngelihat ke mana-mana.Cuma ke sebuah titik di langit luas,yang menarik sudut matanya.
Ata menarik nafasnya perlahan.Minho memang benar,hal yang kayak gini memang bukan sebuah barang baru baginya.Tapi ata tetaplah ata,seorang manusia biasa yang pasti punya hati.Ngerasain yang namanya kangen dan sedih karena gak bisa tinggal ma keluarga.
“Justru karena gue normal itulah,gue sama kayak yang laennya,bro.Gue pasti homesick juga.Tiap ngelangkahin satu langkah kaki ninggalin rumah aja,gue pasti nyesak.Malam sebelum keberangkatan ke korea,gue nangis meluk nyokap gue yang lagi tidur,saking gak pengennya sebenarnya gue kayak gini.Jujur,kalau boleh milih...gue pengen hidup bareng orang-orang yang gue sayangin,tanpa harus ninggalin mereka,dan melanglang ke mana-mana”
Jelas ata panjang lebar,untuk sesaat mengatur nafasnya,agar gak terdengar bahwa sebegitu rapuhnya dia kalau lagi ngomongin hal yang kayak gini.
“tapi inilah hidup gue,bro...”
Kali ini ata ngucapinnya lirih.justru jeda sesaat tadi,buka kesempatan wat sisi melankolisnya menguasainya.
“Gue gak bisa ngegugat yang di Atas atas jalan hidup yang udah digarisin ke gue...Gue gak punya hak atas itu”
Ucap ata pelan.Ada sedikit “bola besar” dalam hatinya yang terasa mencair.Belum pernah sekalipun,selama di korea,ata numpahin perasaannya kayak barusan.Terlebih pada seseorang yang jelas sebelumnya adalah makhluk baru dalam kehidupannya.
Minho sebenarnya bisa merasakan itu.Dia jadi mikir,apakah yang barusan dia tanyakan adalah hal yang tepat.Diam-diam,minho jadi punya rasa bersalah karena udah nanya pertanyaan tadi ke ata.
“Tapi,gue yakin...apapun yang Tuhan takdirkan,semuany pasti ada pelajaran hidup yang bisa gue ambil.Kalau gak kayak gini,selamanya gue pasti tetap jadi cewek cengeng,yang bisanya Cuma berada di bawah ketiak nyokapnya”
“Kalau gak pergi merantau,hingga korea...selamanya gue gak gak bakalan tahu gimana sayangnya orang tua sebenarnya ke gue”
Ata kembali diam sejenak.
“dan satu hal yang lebih penting lagi..kalau gak mpe sejauh ini,ada orang yang nanyain gue gimana rasanya jauh dari keluarga,perhaps..gue mungkin gak bisa sadar-sadar,betapa ternyata di dunia ini ternyata masih ada orang yang care ma gue,dengan segala keingintahuannya dia yang gak jelas banget itu..”
Ucapa ata,diiuti pandangan minho.Ata nyengir lebar.Ia tahu,kata yang barusan tentu sebenarnya gak serius di ucapkan.
Minho lagi-lagi mengacak rambut ata secepat yang dia bisa,seraya terseyum,dengan sebegitu manisnya.Dan selanjutnya,refleks mendekap tubuh ata,dan membenamkan kepala ata ke atas pundaknya.Bikin ata kaget setengah mati.Untuk selanjutnya,gak bisa ngomong apa-apa lagi.Dan milih untuk pura-pura tidur,daripada minho tahu kalau dia sekarang tengah mati langkah.
Untuk pertama kalinya,seumur hidup ata dipeluk cowok !.God ??
“Ta,kamu tidur ??”
“Gak,gue Cuma mati suri doang,gara tangan lo yang kenceng banget,bikin gue gag bisa nafas”
...
Ata pengen nangis.Gag tau,gak ada hujan,gag ada angin,apalagi petir,ata ngerasa untuk hari ini dia jadi sensi banget,sensitif untuk hal-hal yang bisa bangkitin jiwa melankolisnya.Apa mungkin,karena sore tadi dia biz ngobrol ma minho,dan kebetulan ngebahas tentang rumah.Ata ingat indonesia,ata kepikiran ma rumah,ma keluarga,dan khususnya ma ibunya.Sudah sejak lama dia gag ma ibunya,wanita yang kerap banget bikin ata ngeluarin air mata,serta sebaliknya.Ata adalah anak bungsu,dia punya kakak,laki-laki ma cewek.Dua-duanya udah bikin orang tua ata bangga,dengan ngejalanin tiap hal yang ortu mereka garisin,termasuk untuk menetap di tanah kelahiran,bangka belitung,selepas menamatkan kuliah.Tapi gag ma ata, ata milih untuk gak ngejalanin pakem itu.Ata tahu,keputusannya adalah keputusan yang jelas bikin ortunya kecewa,terlebih nyokapnya.Ada pertimbangan lain yang bikin ata ngambil keputusan itu.Tapi ata yakin dengan keputusannya.Meski ata harus nerima kenyataan,bahwa dia jelas gag punya waktu hidup ma ortunya sebanyak yang sebenarnya dia inginkan,seperti yang dulu dia jalani ketika masih kecil.Dalam lubuk hati yang paling dalam,jujur ata gag pengen kayak gini.Tapi pertimbangan penting itu harus ia jalani.
Dan sebagai manusia,ata jelas punya hati.Terkadang,keyakinan itu berkurang,berfluktuasi tergantung di mana kondisi hati seorang ata berada.Seperti saat ini,jujur saja,ata pengen nangis.Ata gag nyalahin minho kenapa tiba-tiba saja dia jadi ngebahas hal yang bagi ata sangat sensitif itu.Mungkin,hari ini Tuhan pengen ata ngerasain hal ini.
Ata menyeka air matanya yang perlahan mengambang di sudut matanya.Ata berusaha untuk gag nangis,seperti yang selalu diucapkan ibunya setiap ata pengen nangis waktu pamitan di bandara,ninggalin mereka semua,orang yag selama ini menjadi motivatornya,yang selalu menyokongnya kemanapun dia pergi,sebagaimanapun seorang ata berada.
Kadang ata mikir,apa perasaan ini ada sebagai efek serta luapan dari jiwa melankolisnya.Perasaannya,kerap terasah dan diasah.Tapi karena itu juga ata bisa seperti ini,bisa menemukan kelebihannya.Kelebihan menulisnya.
Kembali,ata mengenang setiap detik beberapa waktu yang ke belakang.Beberapa tahun silam.Saat dia lagi punya waktu dan kesempatan bersama keluarganya.Saat semuanya utuh.Waktu itu,belum ada satu kakaknya pun yang keluar dari rumah untuk pergi ke kota lain,merantau,menimba ilmu.Pernah,ketika pertama kalinya,kakak tertuanya pergi ke jogja untuk melanjutkan sekolah,sehari sebelumnya,ata nangis.Waktu itu ata masih esempe.Pikiran ata,bahwa hari itu bisa jadi hari terakhir untuk mereka,berkumpul lengkap.Karena setelah hari itu,tak kan ada lagi kebersamaan ini.Dan benar saja,justru sekarang hal ini terjadi kepadanya.Ia lah orang yang menjadi ketidaklengkapan itu.Ata lah potogan puzzle keluarganya yang tak pernah ada,dan mungkin saja tak kan melengkapinya.Terkadang imaginasi ata,seandainya saja ia punya lorong waktu.Dia pengen kembali ke saat-saat dulu ia masih kecil.Makan malam bersama,nonton teve bareng,cerita-cerita kalau lagi pas mati lampu,meskipun kadang ada pertengkaran di sana.Memang benar,kalau seseorang akan merasakan arti sebuah kebersamaan,ketika telah merasakan dan menemui sebuah perpisahan.Dulu,ata benar-benar nyesel,ketika masih di rumah,dia kerap bertengkar pada ibunya.Watak ia dan ibunya sama,termasuk sama-sama keras.Dan bodohnya ata,dulu dia punya keinginan untuk secepat mungkin meninggalkan rumah,hingga ia berdoa setiap sujudnya agar ia bisa masuk ke sekolah unggulan di tempatnya yang mengharuskan siswanya untuk menetap di asrama.Ata memang terpilih,doanya terkabul.Tapi justru hal itu jadi sebuah keputusan yang sekarang jadi ata sesalkan.Kenapa dulu dia punya pikiran sedangkal itu.Tpi,toh semua sudah jadi bubur.Mungkin,lagi-lagi,semua itu adalah jalan hidup yang digariskan Tuhan padanya.Dan sperti yang juga ata katakan pada minho tadi sore,bahwa dia gag punya hak pada tiap keputusan itu.Ata benar-benar merasa rapuh saat ini...
...
“Ta,lo nangis ?”
Key tiba-tiba aja muncul dari arah belakang ,bikin ata nyaris terlonjak,karena dia bisa mastiin bahwa di tempat itu,taman belakang kampus CoenHwa dia sendirian.Gag ada siapa-siapa,kelas sudah pada bubar sekalipun kelas malam.Taman kampus belakang jadi tempat favourite ata sekarang.
Ata menggeleng.Karena emang ata gag nangis,lebih tepatnya gag ngeluarin air mata,meskipun dia tadi tersedu-sedan.Tapi dicobanya untuk gag ngeluarin air mata.
“Kok,pas gue lewat deket sini tadi,gue denger malah kayak ada orang lagi nangis.Gue yakin itu elo,makanya gue langsung ke sini.Dan ternyata emang benar”
Ucap key,sembari berjalan,duduk disebelah ata.Ata narik nafas lega.Karena untung pas banget yang lagi lewat itu key.Bukan orang lain.Bisa bikin orang takut setengah mati tuh,dengar malam-malam gini ada suara tangisan di taman belakang kampus.
“Gue lagi gag nangis kok,Cuma...Cuma lagi ngegumam aja”ngeles ata.Jelas banget dia ngarang cerita.
“Trus,ngapain malam-malam gini sendirian di sini ?” tanya key tanpa menimpali jawaban ata barusan.Key terlihat sangat casual malam ini.Baru kali ini ata liat key ke kampus Cuma pake sandal ma celana pendek selutut,itupun ditambah dengan atasan yang Cuma jamper doank.Gag tahu,bagi ata justru key keliatan sedikit lebih good looking malah.
“Nah lo sendiri,ngapain juga ke sini ? Lagi gag manggung apa ?” ata nanya balik.Ata niup matanya perlahan,agar air matanya yang udah ketahan,benar-benar ke bendung.Gag jadi bikin hujan.gag lucu banget,kalau pas key datang,eh malah ata nangis.Dikira ntar malah ata terharu atas kedatangan key yang biasanya narsis abiz.Ih,gag banget d,pikir ata.
“Gue lagi nyari lo”
Jawab key pendek,sambil melirik ke kanan ma kiri, yang ata tahu kalau itu jadi codenya key kali aja ada paparazi usil di sekeliling mereka,yang lagi ngikutin dia.Wajar...artis.
“Nyariin gue ? ngapain ?”ata mendelik,lebih tepatnya karena kaget atas jawaban singkat dari key barusan.
“Yoi.Tadi pas lagi di jalan,gue ketemu minho.Dia bilang dia abiz ketemu lo gitu.Trus gue tanya nah lo nya sekarang lagi di mana,karena kebetulan gue lagi nyariin lo bedua.Minho jawab,kalo lo udah dianter pulang gitu.Ya udah,gue samperin deh ke flat.Eh,gag ada”
“Nyariin kita bedua ?? Ada urusan penting apa c ?” tanya ata lagi.Ata membetulkan letak syalnya.Udara kota seoul emang lagi dingin-dinginnya.Bagi ata,kalau yang dah biasa kayak key c,cuaca gini malah gag terbilang biasa-biasa aja.
“Gue mau ngajak lo bedua jalan.Tapi tadi,minhonya gag bisa.Malam ini dia ada off air di sukira.Jadi yawdah Cuma lo aja.Gue lagi kosong neh.Sumpek ketemu ma management mulu.Mau pulang ke rumah,lagi males”
Key mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.Untuk selanjutnya memencet beberapa tombol ponselnya,dan terdengar bunyi tutts.Non aktif.
“Yawdah,cabut yuk.Lo lagi gag punya kepentingan urgent kan lama-lama di sini ?” tanya key sambil beranjak bangkit dari tempat duduk.
Ata mikir sejenak.Key emang datang di saat yang tepat c.Meskipun jujur,suasana hati ata sebenarnya lagi pengen sendiri aja.Tapi,kayaknya itu bukan keputusan yang tepat d,mengingat juga,jarang-jarang seorang key bisa punya waktu seluang ini.Apalagi waktu luangnya yang terbilang langka itu,justru malah pengen dishare ke seorang ata.
“Okelah.” Jawab ata pendek,sambil beranjak bangkit.
...
Kota seoul terlihat cantik di kala malam.Dari kejauhan bisa dilihat gemerlap lampu-lampu penerang jalan yang berkilauan.Menimpa tiap-tiap bangunan,serta pekatnya malam.bahkan menjadi laksana cahaya bintang tersendiri,cahaya dari langit aja terasa kalah terang.
Pelataran tempat pejalan kaki,terlihat meriah di kala ini.Tampak beberapa pedagang,istilahnya kayak pedagang kaki lima,Cuma jangan disangka pedagang kaki lima di korea kayak lapaknya di indonesia.Coz kalau yang disini,itu lebih tertata rapi,dan jelas gak berkesan kumuh kayak di indonesia.
Beberapa orang lagi berjalan-jalan menyusuri pinggir jalan.Beberapa adalah pegawai kantoran yang baru aja pulang kerja,beberap lagi karena memang pengen niat jalan kaki nikmati malam di sepanjang pusat keramaian kota seoul.
Gitu juga dengan ata dan key.Mereka pun lagi ngelakuin hal yang sama,Cuma bedanya mereka milih nyusurin tiap ruas jalan kota seoul dengan bersepeda motor.Key bawa motor sportinya yang jarang digunain.Ata pernah lihat sekali,pas key pagi-pagi datang ke flatnya buat ngajak ata jogging.
Kalo di indonesia,ata emang lebih banyak ngabisin perjalanan dengan motor,tapi gak pernah sekalipun pake motor gede,khas para cowok-cowok gitu.Karena selain motor tersebut biasanya ditemui ata Cuma sebagai properti buat syuting,trus hal laen lagi,meskipun terkesan sedikit aneh adalah karena memang gag ada cowok-cowok keren yang nawarin ata naek di mogenya.Kan biasany,yang naek motor gini kebanyakan cowok-cowok tajir,keren,dan gaul.Dan cewek yang layak untuk duduk di jok belakang lain tidak hanyalah cewek-cewek cakep yang punya body seksi.Dan itu,jelas BUKAN seorang ata.
Hihihi,ata jadi geli sendiri,bayangin betapa sangat anehnya jalan hidupnya ini.Now,yang boncenginnya gag Cuma sekedar cowok tajir,cakep,gaul,but..more than it,seorang cowok terkenal di seantero jagat raya korea!.
Tapi ini bukan jadi alasan pertama kenapa dia mau temenan ma key.Garis bawahi ya.
Sepanjang jalan,key gak henti hentinya cerita kalau dia lagi sebel banget ma managementnya yang gag ngebolehin dia buat ambil rehat di bulan ini.Alias gag boleh liburan,dan break kerja.Keterlaluan banget kan ?.Ata jadi mikir,ternyata jadi artis it gag selamanya enak.Dia emang udah lama tahu akan kenyataan seperti ini,tapi baru kali ini hal tersebut dia dengar langsung dari artisnya sendiri.Biasanya kan ata Cuma ngurusin bagian teknis pelaksanaan syutingnya doang.Selebihnya,diluar jangkuan wilayah kerjanya.
Selain itu,diam-diam ata jadi ngerasa kasian juga ma key.Duh,betapa ternyata gag Cuma ata doank yang punya masalah.Tiap orang yang hidup di dunia ini pun,siapapun dia pasti punya masalah.Wajar banget.
Dengar key curhat gitu,ata jelas berusaha untuk ngasih empati terbaik.Bukan sebuah saran yang menggurui.Karena ata tahu,kalau terkadang cowok kalau lagi cerita itu,bukan berarti dia mau cari solusi.Bahkan,ada beberapa cowok yang malah gag minta solusi.Tapi lebih kepada sebuah pengertian atas masalahnya.Makanya,sesekali ata memilih untuk diam mendengarkan,sekalian memang karena ata lagi worry-worrynya,coz key ngendarain motornya agak sedikit ngebut.
Dari jok belakang,ata nengadahin kepalanya ke atas.Memandang hamparan langit luas bertabur bintang.Entah kenapa kali itu beban di hatinya terasa sedikit terangkat.
...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

FanFic #6

CHAPTER 4

Atami sendiri gak terlalu begitu yakin dengan keputusannya memilih negara yang tidak menggunakan bahasa inggris dalam kesehariannya sebagai tempat tujuan memulai karier menulisnya,impiannya menjadi script writer handal.Pasalnya,kuliah sudah memasuki minggu ke dua,tapi bahasa korea serta penulisan ataupun pembacaan hangul nya belum juga terkuasai.kadang ata ngerasa bahwa sulit sekali untuk mempelajarinya secara cepat hanya dalam waktu satu bulan pertamanya di korea.Tapi jika ingat bahwa tujuannya ke sini adalah keinginan yang memang sudah lama diinginkannya,tentu hasrat surut tersebut bangkit kembali.Tapi tetap saja,keinginan menyerah itu tetap terus ada.
“How can’t i do this” tulis ata dalam sebuah akun twitternya.Yang bikin teman-temannya pada ngontak,atau sekedar ngirimin email nanyain gimana keadaan dia sekarang.Kebanyakan, beberapa ngasih dia semangat buat gak nyerah,terus berusaha,coz permasalahan yang tengah dihadapin ata adalah problem yang wajar banget dialami oleh mahasiswa-mahasiswa awal di korea atau beberapa negara yang emang gak gunain tulisan latin dalam pengantar bahasanya sehari-hari.
Emilly,salah satu teman ata di esema dulu,sekaligus anak terpintar di kelasnya sehingga berhasil nembus beasiswa di salah satu universitas ternama di tokyo,jepang, pun cerita kalau awal-awal permatakuliahannya doski sempat ngerasa stress akibat belum terlalu bisa nulis hiragana dan katagana.
“gue sempat pengen nyerah juga kali,ta.Tapi gue inget lagi perjuangan gue ke belakang.Gue gak pengen semuanya sia-sia hanya karena gue nyerah ma keadaan.Kalau orang lain bisa,kenapa gue gak.simple kan ? gw yakin lo juga bisa ngelaluin yang sama”
Saran emilly beberapa jam yang lalu,waktu lewat telle conference hemat biaya tokyo-seoul,emilly nanyain kabar ata setelah bilang kalo sebelumnya baru aja baca status yang baru dipost ma ata.
Duh,ata jadi ngerasa kangen ma temen-temennye.gak Cuma ma keluarga dan dua sahabat karibnya,amel dan ako,yang sekarang entah lagi ngapain,mungkin berkutat dengan kerjaan mereka di bawah terik matahari,jadi pemburu berita dan yang satunya pengarah gaya di sebuah majalah remaja ibu kota yang sekarang lagi branded-banget,GoGIRL! Magazine.
Beberapa bulan sebelum keberangkatannya ke seoul,secara personal,sama mbak anita moran,yang notabene pemrednya GoGirl!,ata pernah ditawarin wat jadi salah satu reporter di sana.Awalnya ata emang jadiin tuh majalah sebagai batu loncatannya untuk ngembangin kariernya di bidang nulis.Tapi setelah ‘tragedi’ magangnya bareng mas riri di film laskar pelangi,yang berhasil nemuin ata ma mas salman aristo,one of script writer terbaik yang dipunya dunia perfilman indonesia,ata akhirnya mutusin untuk udah mulai nentuin ke arah mana bidang kepenulisannya bakal berlabuh.Yang artinya juga,ata mneolak tawaran menggiurkan dari pihak GoGirl! Dengan berat hati.Tapi itulah hidup,there’s always a choice,begitu yang diyakini ata.Dan menjadi scrip writer adalah obsessi yang ingin di raihnya saat ini.Bermimpi kalau suatu saat nanti namanya akan muncul dalam sebuah film yang naskahnya dia sendiri yang tulis, masuk dalam nominasi ajang perfilman terbaik,semodel cannes or venicce,syukur-syukur bisa jadi juara,dan ngendapatin berbagai pujian dari para kritikus film.Duhh..ata pengen itu semua kewujud!
“Jangan pernah takut bermimpi.Ketika kita udah mutusin wat punya mimpi,dan mengusahakannya.Maka sebenarnya Tuhan sudah menyimpan mimpi itu buat kita untuk suatu saat dikembalikannya pada si empunya mimpi”
Begitu yang diucapkan mas andrea hirata,sang tetralogis pada suatu kesempatan waktu mereka ngobrol di sebuah kedai kopi di ambarukmo plaza bareng amel dan ako.Kebetulan saat itu tengah launching premier film sang pemimpi.Dan ata mutusin untuk ngehadirin undangan langsung dari bang andrea.Bertepatan waktu akhirnya ata curhat perihal obsesinya itu.
Hanya saja,masalahnya...saat ini ata jadi ngerasa sedikit turun semangat dengan kondisi yang tengah dialaminya.Keputusan memilih korea adalah keputusan personalnya.Tanpa melibatkan orang tua,ataupun amel dan ako seperti biasanya.Diakui,sebenarnya keputusan ke korea ibarat keputusan ber-euphoria sesaat.Impian masa kuliah di indonesia.Waktu semester awal dulu,ata ngefans berat ma salah satu boyband yang pernah berjaya di masa itu,Shinee.Ata memang seorang dreamer.Tiap hari di masa itu,gak pernah absen namanya buat ata gak ngembayangin bahwa suatu hari nanti ata bisa ketemu,ngbrol ma semua personil bertampang cowok tipikal ideal ata,pa lagi mereka jago nge-dance.Alhasil,semenjak saat itulah ata nancepin dalam hati bahwa dia bakal bisa keluar negeri.Mengganti jepang menjadi korea.
Dan now,semuanya sedikit menurun.Impiannya gak hanya ketemu shinee,meskipun belum semua personeel ditemuinya,hanya si almighty key ma charismatic minho,itupun untuk yang terakhir Cuma lewat sebuah insiden kecil pas pertama kali ata nginjakkin langkah pertama di negeri “full house” ini,sudah terwujud.
Tapi justru satu tantangan lagi belum kejawab.Ata gak Cuma pengen dia bisa ketemu ma shinee,sekaligus ngelanjutin cita-citanya nulis dengan bersekolah di korea,tapi ata gak pengen juga ketika semua satu persatu impian euphorianya kejawab,tapi malah di waktu yang sama itu pula,ata nyerah.Hanya karena satu alasan yang gak bisa diterima ma akal sehat jiwa kompetitif ata.
“Nah itu,lo tau jawabannya,ta.”
Jawab ako pas dicurhatin ma ata lewat chattingan Ym yang mereka lakuin di sela-sela aktivitas padat perkuliahannya. Ako dan amel jelas gak bakal ngasih sedikitpun masukan yang berkemungkinan ngelemahin semangat ata.Dan itu,ata udah paham betul.Makanya,begitu udah numpahin uneg-unegnya pada dua sahabatnya itu,dalam hal ini_ata mutusin wat minta pendapat dari pihak lain.Dan ata rasa pihak ini bisa saja ngasih pendapat sedikit berbeda,karena satu hal_nih orang gak tahu-menahu secara lengkap track record perjuangan seorang oshie atami.
Dan sekarang,ata lagi nungguin tuh orang di taman belakang gedung jurusan seni rupa FSRD Coenhwa.Tuh orang yang ditunggu-tunggu emang belum datang,tapi setidaknya untuk hari ini,ata gak ngelewatin kegundahannya seorang diri.
...

“Lo gak pernah cerita ma gue sih,ta”
Koment pertama dari key begitu curhatan dari ata khatam.Sore ini key mutusin untuk gak ngambil job off atau on air apapun.Baginya,permintaan sahabat barunya di institute coenhwa ini merupakan permintaan yang gak mungkin dia tolak.
“Ya...gue kan mana tau kalau lo mau dengerin cerita gue,key”
Ngeles ata.Sebenarnya,lebih tepatnya karena kemaren-kemaren ata gak terlalu yakin kalo seorang key,yang notabene orang beda budaya,otomatis beda pola pikir ma dia,bisa ngerti ma persoalan yang dihadapinya ini.
“Gue minta maaf juga kalo selama ini,jujur gue gak gitu yakin kalo lo bisa ngasih saran yang bisa sejalan ma jalan pikiran gue.Sorry...”
Ucap ata akhirnya jujur.Key menoleh ke arah ata yang diam-diam gak berani natap ke arah key,kali aja key bakal marah akibat pengakuannya barusan.
“Wajar kali.Gue hargain,lo ketemu ma gue kan baru sebulan ini.Lo nganggap gue belum tentu sepemikiran ma lo adalah hal yang gak perlu gue permasalahin.gue pernah juga kayak gitu,ngerasa underestimatte ma orang yang baru gue kenal.namanya juga proses,gak bisa dipaksain”
Duh key,jawaban lo barusan semakin buat gue ngerasa tengsin abiz,udah keliru banget,batin ata.
Sekarang ata jadi tahu kalau ngejudge sama semua orang,apa lagi di awal-awal adalah sebuah hal yang jelas-jelas gak bijak.
“Gue emang mungkin gak terlalu bisa ngasih empati seperti ekspektasi lo.But at least,gue udah punya bayangan wat ngusahain gimana bantu lo ngadapin permasalahan lingua lo ini”
Seketika,begitu ngucapin kata barusan,key tanpa pikir panjang langsung narik tangan ata.Mengajaknya berjalan meninggalkan bangku taman yang telah setengah jam ini mereka duduki.
“Kita mau ke mana sih,key ?”
Tanya ata begitu mereka berdua melewati ruang kelas di mana seharusnya perkuliahan terakhir mereka digelar.
“Gue udah ngirim message ke minho biar ngomong ke mr.lee untuk ngizinin kita wat gak ikut kelas pada hari ini” jawab key yang bagi ata sebenarnya rada gak nyambung,tapi lumayan ngejawab pertanyaan lainnya yang sebenarna jauh lebih penting.Gawat aja kalau sampai pertemuan kali ini ata milih bolos kuliah.
Akhirnya,ata milih untuk gak nanya apa-apa lagi.Hanya berfokus pada usahanya mengimbangi langkah key yang jelas dia kalah cepat.
Dan pastinya,usaha ata wat gak gitu ngerusuhin beberapa pasang mata yang dari sudut mata ata,dia yakin kalau saat ini,dengan seorang key yang lagi jalan megang tangan ata,bikin siapa saja di seantero kampus ini jadi pada ngeliatin mereka.Dengan ekspresi bertanya-tanya tentunya,dan gak bisa lepas.Salah satunya,waktu mereka pas banget ngelewatin studio dance kontemporer,hampir separuh mahasiswa yang lagi latihan tampak berebutan menyembulkan kepalanya lewat jendela yang ada.Dan ini jelas bikin ata tambah tengsin. Key sih cuek-cuek aja.Sekaliber dia,dah jadi hal yang biasa untuknya nemuin situasi yang seperti ini.
Dan detik berikutnya,key pun memasangkan kaca mata hitam yang sedari tadi tersangkut di saku kemejanya.Memaksa ata untuk duduk di jok depan sebelah pengemudi.Untuk selanjutnya membawa grand canova hitam metaliknya keluar dari pelataran kampus CoenHwa.
Seseorang dari arah kejauhan,tanpa disadari baik key ataupun ata,yang tak lain adalah mahasiswa yang tengah berlatih di studio dance kontemporer,tampak memandang tak bergeming pada suatu titik yang dia sendiripun tak yakin sedang memandang apa.Laki-laki berkulit seputih dibanding lainnya,dengan bola mata besar,namun dengan potongan rambut jamurnya dengan bando menjepit poni di depan untuk mempermudah latihannya pada sore hari itu tampak memalingkan mukanya ke sisi lain.Menyetel pengeras suara dari sebuah tape musik,untuk selanjutnya kembali memulai gerakan tarinya yang beberapa saat tadi sempat terhenti.
Dan dia pun tersenyum kecil.
...
Mobil mewah milik key,di mana ada ata di situ,melenggang memasuki sebuah rumah mewah gede,setelah sebelumnya melewati penjagaan pos security.Baru kali ini,sepanjang hidupnya,ata memasuki rumah se mewah ini.Pernah sih sekali,tapi itupun waktu dia kepilih mengikuti upacara kenegaraan tujuh belas agustusan pas masih zaman kuliah,alias rumah mewah yang ata maksud itu tak lain tak bukan adalah istana negara.
Tapi rumah yang ini beda.Kayaknya gak mungkin,kalau yang mereka masuki sekarang adalah kediaman orang nomor satu korea,mengingat urusan penting apa yang mereka tujukan jika demikian.
Dari sedikit obrolan di pos penjaga depan antara key dan tim security,sedikit banyak ata bisa nangkep rumah siapa ini.Milik sebuah keluarga yang pastinya,soalnya key gak nyebutin nama seseorang pake embel-embel,”kumo” ataupun “ajushi”.Yang artinya,bisa jadi si empunya rumah ini adalah sahabat key,atau...mungkin rumah milik salah satu personil shinee lainnya.
Mobil mengitari sebuah kolam pancur mirip seperti yang ada di depan gedung administrasi utama sekolah CoenHwa,bedanya yang ini sedikit lebih kecil.Tanpa mengurangi kemewahannya.Dari arah kaca spion di sebelahnya,ata bisa melihat kebelakang,ke hamparan rumput hijau luas yang baru saja mereka lewati.Tampak beberapa tukang kebun mengatur letak keran air putar untuk menyirami tiap petak rumput untuk kemudian dipindahkan ke petak lainnya lagi.
Harga tanah di negera korea realtif tinggi.Hal ini memungkinkan untuk tiap kepala keluarga di kota seoul contohnya,cukup berpuas hanya dengan memiliki sebuah flat.Dengan kata lain,hanya kalangan-kalangan ekonomi tertentu,sebuah keluarga dapat membangun sebuah rumah di atas sebuah lahan.
Jadi bisa disimpulkan,bahwa pemilik rumah yang sedang mereka tuju ini merupakan keluarga dengan ekonomi menengah ke atas.Alias golongan kaya korea.
Dan cukup sekali belokan,mobil mereka berhenti persis di depan sebuah pintu besar cokelat terbuat dari kayu import mahoni,berplitur emas.
Setelah key mematikan mesinnya,dan atapun mengikuti keluar mobil,pintu pun terbuka.Tampak keluar seorang wanita berambut ikal,bertubuh ramping dibalut rok setengah lutut,dengan kemeja putih bermotif rumbai-rumbai besar bergaris hitam,membuat penampilannya terlihat elegan.
“Key !!!”
Begitu wanita itu menghambur kepelukan key,ata tahu kalau wanita yang kini berada di hadapannya yang gak lain si empunya rumah,bisa jadi adalah orang yang emang udah lama gak ditemui key.
“At last,i can meet u.long time no see” ucapnya dalam longgat dalam bahasa inggris yang terbilang fasih.
Key membalas mendekapnya erat.Ada rasa gak enak dikit pada ata,apa karena untuk beberapa saat ata ngerasa dicuekkin.Ngeliat dua orang yang udah lama gak ketemu,ngelepas kangen-kangenan mereka di depannya,yang jelas gak ada sangkut pautnya itu.
Key nangkap situasi yang ata rasain.
“Well,ni kenalin,teman gue atami,oshie atami”
Key berbicara ngeliat ke ata,yang langsung disambut oleh ata dengan sebuah senyuman,yang sebenarnya senyuman kaget,karena ata sendiripun gak sempat untuk ngembaliin dirinya dari alam vakum sesaat ke alam nyata.
“Teman ?oww,sorry..kok aku baru dengar nama,siapa...miss atami ini sekarang ya ?kayaknya kamu belum pernah cerita sebelumnya de key”
Ucap wanita yang langsung melirik ke arah key.
Ya jelas aja,gue aja baru pertama kali ini ketemu lo,batin ata.
“O ya.Nona atami ini teman sekelasku di Coenhwa” klarifikasi key.
Ada tatapan heran dari wanita yang belum memperkenalkan dirinya ini.
“Tuh kan,pantesan !!! Kamu tuh ya,pantesan aja gak jadi sekolah di amrik.Kamu akhirnya mutusin kuliah di sana juga ??” ucapnya sambil tertawa gelak.Memukul pelan pundak key.
Key terlihat gak enak hati.Bukannya apa,key sudah memperkenalkan ata pada hyo ri,tapi sebaliknya semenjak tadi hyo ri sendiri belum memperkenalkan dirinya pada ata.
“Nah lo sendiri siapa ?Kenalan dong ma temen baru gue” key akhirnya angkat bicara.
“Iya key...Hai,aku hyo ri,lee hyo ri.Nice to meet u...”
Ucapnya sambil mengulurkan tangan pada ata.Ata langsung membalas dengan hal serupa.Setidaknya,gak jadi deh dia dicuekkin berlama-lama.Sekalipun wanita ini adalah temannya key.
“Mari masuk”
Ucap hyo ri sambil menggandeng lengan ata,dan serta merta seorang wanita berpakaian seragam khas,kayaknya pembantu di rumah itu,membukakan pintu.
Dan betapa terkejutnya ata ngeliat sesuatu yang jauh gak kalah mewah dari pemandangan di luar yang baginya udah mewah.
Rumah yang lebih mirip hotel berbintang lima ini tampak megah dengan interior dalam yang sengaja didesaign glamour.Tangga spiral besar yang melingkar hingga lantai atas,dengan tiap anak tangga yang udah segede kayak balok disusun double,beradu apik dengan pagar tangga yang terbuat dari emas hijau. Sementara di atasnya,sebuah lampu gantung bertahta berlian putih tiga tingkatan,mungkin saja membuat di kala malam ruangan ini bermandikan cahaya berlian.
Diam-daiam,dalam hati ata gak bisa lepas dari semua hal mewah yang ditemuinya ini.Beda banget dengan apa yang ada dengan kehiudpannya selama ini di Indonesia.Seluruh ruangan rumahnya sendiripun masih kalah jauh dibandingkan dengan hanya satu petak ruang tamunya.
“Mari kita ke lantai atas saja”
Ajak hyori,diikuti key dan ata.Kalau key,dia tampak biasa saja.Bisa jadi,meskipun ata sendiri belum pernah sekalipun berkunjung ke kediaman keluarga key,tapi setidaknya sedikit banyak,begini juga lah gambaran rumahnya.Apalagi mengingat key adalah seornag artist terkenal korea.Baginya,memiliki rumah mewah tentu bukan perkara susah.
Mereka melewati ruang keluarga,terpisahkan tangga horizontal dengan sebuah ruangan yang sepertinya adalah kamar tidur.Dan di ruang keluarga,ata bisa ngelihat sebuah foto keluarga terpampang.Hyo ri adalah anak tunggal.Karena di gambar tersebut,hanya ada dirinya,serta seorang laki-laki dan perempuan paruh baya.
Akhirnya,mereka tiba di balkon luar yang menghadap ke hamparan kebun samping,yang lagi-lagi bikin ata tercengang saking takjubnya.Taman bunga mawar dengan berbagai macam warna yang seumur hidup baru kali itu ata ngeliat mawar selain warna merah dan putih.
“Hyo ri suka menanam bunga.Sekaligus dia sendiri adalah penjual bunga” jelas key.Ya,penjual bunga sebagai sampingan.Karena gak mungkin banget,nalar ata,hanya dengan berkebun dan membuka toko bunga,bisa punya rumah segede dan sewah ini.
Mereka kemudian duduk di sebuah bangku berwarna putih,dengan tepian meja menggunakan taplak kain rajutan bermotif bunga mawar berwarna pink.Serta merta beberapa wanita berseragam segera meletakkan tiga buah gelas berisi minuman ke atas meja.Dan detik berikutnya pergi meninggalkan mereka,dengan terlebih dahulu membungkukkan badan,tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Ata memandangi pemandangan di depannya.Ia jadi teringat dengan rumahnya.Karena sebulan ata berada di korea,baru ini dia memasuki sebuah rumah,bukan flat yang biasanya ia temui.Itupun hanya flat key dan minho.Serta flat punyanya,yang sederhana.
“Kau beruntung bisa mengenal key” hyo ri membuka pembicaraan,setelah sebelumnya menyilahkan baik key ataupun ata untuk meminum minuman yang disediakan.Ia menatap ke arah ata.
“Lo ngomong terlalu berlebihan,hyo” balas key nyantai,dengan bahasa yang gak se kaku hyo ri.
Ata Cuma menimpalinya dengan tersenyum.karena dia masih memikirkan alasan apa bagi key sehingga membawanya menemui hyo ri.
“Hyo ri ini teman gue dari kecil mpe gue sekolah di amrik,ta.Bokapnya seorang diplomat untuk negara-negara di kawasan asia,khususnya asia tenggara.Salah satunya,indonesia.Alasan gue bawa lo ke sini,karena gue yakin teman baek gue yang satu ini” jelas key sambil memalingkan muka ke arah hyo ri yang tampak ingin tersenyum.
“Bisa bantu ngatasin kesulitan bahasa lo.Dia sendiri pernah ikut bokapnya tinggal di indonesia.Berapa tahun,hyo ?”
Lee hyo ri mengacungkan tiga jarinya.
“Lumaya juga ya”timpal ata akhirnya.
“Dulu gue juga sempat bersekolah di sana.Sampai akhirnya,pas kerusuhan mei 98,gue dipulangkan ke korea.Karena waktu itu,bagi etnis tionghoa,kondisi sosial di sana benar-benar gak kondusif banget”
Cerita hyo.Ya,ata tau itu.Beberapa tahun yang lalu,saat dirinya masih esde,ata pernah denger berita tersebut.Meskipun dia sendiri gak nyaksiin langsung dengan mata kepalanya sendiri,bagaimana kengerian kerusuhan yang terjadi pas orde baru,rezimnay soeharto tumbang.Karena ata sendiri di masa itu,masih tinggal di bangka.Sebuah pulau yang jauh dari jakarta.
“Tapi gue lumayan sering juga balik ke indonesia.Lebih tepatnya ke bandung.Atau paling gak buat liburan ke bali.Tapi lagi-lagi,pas tragedi bom itu,gue sedikit aware buat balik lagi ke sana.Benar-benar miris”
Ata tersentak.Gak bisa dipungkiri,jika pembicaraan yang meliputi jika ada orang luar indonesia yang lagi ngbrol ma WNI tentu bakal bahas perihal isu mengerikan tersebut.Tragedi bom emang benar-benar bikin nama indonesia di mata luar jadi jelek.
“But,whatever...indonesia bagi gue tetap jadi one of tempat-tempat yang hommy untuk dikunjungi”
Timpal hyo ri,yang bikin ata jadi nemuin sisi lain dari seorang lee hyo ri.Ata jadi kagum padanya.Jarang-jarang ada orang luar indonesia yang bersikap seperti ini,bahkan ata sendiri yang notabene pure indonesian pun jarang banget ngerasa segitu ngembelanya indonesia,tanah air sendiri.Ata jadi ngerasa malu sendiri.
“Well,sehubungan dengan tawaran lo,key.I got it.Karena emang,gue pengen berbagi ilmu gue ke siapa aja.Lo bukan mahasiswa pertama yang ngalamin kesulitan ini,ta.So,never give up,key”
Hyo ri menggenggam tangan ata.Bikin ata ngerasa dapet satu lagi tambahan semangat untuk gak ngerasa pengen mundur lagi.
Ata memandang ke arah key,yang langsung dibalas seorang key dengan anggukan dan sebuah senyuman pendukung.
Thanks key,ucap ata dalam hati.
Key mengambil gelas berisi minuman, dan meneguk sedikit isinya.Ia mengalihkan pandangan ke depan,ke hamparan bunga mawar yang berwarna-warni.
Dia tahu,beginilah suasana hatinya saat ini,berwarna-warni.Karena pada hari ini,satu kebaikan telah dijalankannya.
...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

FanFic #5

CHAPTER 3

Taksi bernomor polisi menderit mengehentikan pedal gasnya dengan tiba-tiba di depan sebuah gedung berlantai dua dengan arsitektur bergaya roma dengan pilar-pilar besar di depannya.Lengkap dengan air mancur yang keluar dari tepi-tepi kolam serta dari patung utama berbentuk sebuah ikan yang tergambar seolah mengeluarkan air dari arah dalam mulutnya.
Setelah membayar beberapa won untuk sebuah perjalanan yang terbilang jauh,karena tanpa disadari atami jelas tidak memiliki gambaran sama sekali di mana letak asrama bertuliskan CoenHwa Art Institute,tempat di mana nantinya atami akan memperdalam ilmu seninya selama 2 tahun ke depan., atami pun menoleh,dan mendapati bahwa memang benar tempat yang ditujunya adlah bangunan persis di mana taxi yang ditumpanginya dipaksa untuk menginjak rem mendadak begitu dibacanya tulisan di gerbang masuk area yang dipenuhi beberapa lampu penerang jalan ini.Membuat bapak tua pengemudi taxi terbatuk-batuk saking kegetnya melakukan sesuatu dalam waktu tersingkat yang pernah dilakukannya,untuk selanjutnya,yang atami dengar menggumamkan sesuatu dalam bahasa lokal.Jelas atami tidak terlalu bisa menangkap maksudnya.
CoenHwa Art Institute merupakan institusi pendidikan tersohor di seantero kota metropolitan Seoul,yang artinya juga merupakan terbesar di jagat raya korea selatan.Tempat berkumpulnya seluruh seniman terbaik baik lokal maupun luar,di mana uang bukanlah jaminan utama di mana kau mampu lolos dan mendapatkan satu bangku tanpa satu usaha serta kemampuan di atas skala MAHIR.Jadi wajar saja,dari sekian beribu pendaftar,hanya dalam hitungan dua puluh jari untuk satu department minat yang ingin kau masuki.Dan atami,adalah salah satu dari sekian puluh ribu mahasiswa asing yang memiliki keberuntungan dan kemampuan untuk menimba ilmu di negeri dinasty han tersebut.
Terletak sekian mil dari pusat kota seoul,merupakan satu dari sedikit kawasan tak padat hunian,yang sengaja dipilih sebagai kawasan paling kondusif untuk menimba ilmu,terlebih bagi para calon seniman dunia yang notabene memerlukan ruang gerak bebas untuk mengekspresikan jiwa seninya.
Atami mendorong keluar pintu taxi bercat kuning.Jam menunjukkan pukul sepuluh malam,setengah jam dari saat terakhir meninggalkan bandara incheon.
Dan betapa terpukaunya atami dengan apa yang dilihatnya kali ini.Hamparan gedung megah dan artistik bergaya klasik dan semi modern tampak berdiri kokoh menyambut kedatangan pertamanya di sekolah barunya.Atami mengelus dadanya.Ia tahu,inilah buah kerja kerasnya selama ini,apa yang selama ini tak hanya menjadi sebuah mimpi belaka saja.CoenHwa Art Institute...
Ada sedikit keharuan ketika menyaksikan tulisan besar di pilar utama gedung yang berada di depan pandangan matanya ini.
Sementara bapak tua tampak sibuk mengeluarkan tumpukan kardus dan koper bawaan atami dari dalam bagasi belakang.Ada kira-kira 4 hingga 5 buah.Begitu tahu,tanpa pikir panjang atami segerea menambah biaya antar taxi sebagai tip untuk bapak tua yang telah bersusah payah mengangkat berikut mengeluarkan barang bawaannya yang membutuhkan energy ekstra.
Begitu taxi berlalu meninggalkannya,atami kerepotan.Jelas saja,ia tak memiliki siapapun untuk dihubungi dan dimintai bantuan di sini.
Tak ada seseorang yang terlihat atau dilihat sama sekali.Wajar saja,jam segini bukan lagi jam belajar yang efektif untuk tiap mahasiswa masih berada di ruang kelas.
Tapi,hey...tunggu dulu !.Seseorang tampak mondar-mandir di depan sebuah pintu.Tanpa pikir panjang bergegas atami menghampirinya.
...
Key menatap pintu besar di hadapannya.Sesorang baru saja menguncinya beberapa saat sebelum keterlambatannya menginjakkan kaki di gerbang utama sekolah seni yang dipilihnya.
“Bagaimana bisa masuk ke dalam sini kalau pintunya saja terkunci ??” key bertanya gusar,tidak pada siapa-siapa,melainkan pada dirinya sendiri.
Key tahu,dia baru saja telat beberapa menit.Dan sedikit memiliki penyesalan atas keterlambatannya bergerak menuju tempat ini.Coba saja tadi ia meminta supir pribadinya untuk bergerak cepat dari pulau jeju,tempat di mana ia menghabiskan liburannya seorang diri.Tanpa memberi tahu anggota shinee lainnya.
Dicobanya untuk menekan tombol sebuah kontak nama di dalam ponselnya.Tapi berkali-kali pula panggilan gagal.
Tidak pada manager pribadinya,ataupun beberpa orang yang memiliki kewajiban untuk mengurus semua hal ini.
“Hey,kau terlambat masuk juga ?” seorang wanita yang tampak terseok-seok menganggkut baarang bawaan bergerak menuju ke arahnya.Key menatap wanita itu.Sama seperti dirinya,key mengambil kesimpulan tidak mungkin wanita ini adalah sekian dari mahasiswa lama atau orang dalam yang bekerja di sekolah ini.
“Ya.anda siapa ?”
Wanita yang tak lain adalah atami yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya dari kejauhan lebih dahulu memilih untuk mengulurkan tangannya.
“kau sendiri pastilah bukan orang korea ?” tanyanya begitu menyadari cara atami memperkenalkan diri dengan tanpa membungkukkan badannya terlebih dahulu.
“ups,sorry” tahu begitu,atami segera membungkukkan badannya seraya mengucapkan anyyong.
“Sebenarnya bukan itu maksudku.Tapi well,,kau juga mahasiswa baru yang terlambat sama sepertiku bukan ?”
Tanya key setelah membalas mengucapkan salamnya.
Atami mengangguk.Lagi-lagi dia merasa dejavu.Sepertinya dia mengenali laki-laki kebingungan ini.
“Pesawatku terlambat.Ada sedikit masalah dalam penerbangan.Nah,kau sendiri ?”
Atami tersenyum pelan,mengingat akan jawaban sebenarnya yang terjadi mengapa keterlambatan ini bisa terjadi.
“Penerbangan pertamaku tiba satu jam yang lalu.Aku tidak terlalu tahu bagaimana mencapai kawasan ini.ini perjalanan pertamaku ke korea”
“Oh ya ? Ngomong-ngomong,dari mana kau berasal ?Dari wajahmu,aku tahu kau tentu bukan orang korea,kan ?”
“Tepat.Aku datang dari negeri yang jauh dari tenggara sana.Kau tahu indonesia ?”
Mendengar pertanyaan itu,key tertawa kecil dalam hati,Bagaimana ia bisa tidak tahu,indonesia merupakan salah satu dari ladang kerja emasnya.Beberpa show,tour promo luar negeri,serta concert sering digelar oleh managementnya di sana.Tapi hey,bagaimana bisa wanita ini tidak mengenali dirinya,seperti kebanyakan orang di luar artist yang bertemu dengan dirinya.Itu juga menjadi salah satu pertimbangan mengapa key memilih untuk masuk ke sekolah ini di jam-jam tak sibuk.Menghindari liputan media massa kebanyakan,yang akan mempertanyakan keputusannya untuk mengambil keputusan melanjutkan sekolahnya di sekolah seni bergengsi bagi para pelaku seni negeri korea.
“Course,Kenalkan..aku,kim ki bum.Panggil saja aku ki.Kau sendiri ?”
Barulah kemudian uluran tangan dari key memulai perkenalan perdana mereka di sekolah coenhwa.
Atami tergelak sesaat membuat key sedikit bertanya-tanya dalam hatinya.Apakah sedikit demi sedikit wanita itu mengetahu siapa sebenarnya seorang key ?
“Yayaya....aku mulai sadar..”
Atami tergelak.Membuat key semakin terlihat keheranan.Dan merasakan guncangan tangan dari wanita yang berada di depannya ini semakin kencang.Mungkinkah ?
“Ternyata benar.,kau adalah sekian dari banyak orang korea yang bermarga kim yang kutemui.Sebagai komunitas marga terbesar di negeri ini bukan ?? Namamu begitu familiar...Hahaha”
Key tak mampu menyembunyikan rasa shockednya.Untunglah,wanita ini ternyata tidak mengetahui identitas asli seorang key.
“Owh ya.Kau benar ? Jadi hal yang wajar jika kau merasa pernah mengenal ada laki-laki lain yang bernama persis sepertiku”
Key memilih untuk ikut-ikutan tergelak,menyembunyikan ekspresi terkejutnya agar wanita ini tidak menyadari keanehan apa yang baru saja terjadi.
“Kenalkan,aku atami.oshie atami,terserah bagaimana kau akan memanggilku.Tapi kebanyakan,baik teman atau keluargaku memanggilku dengan sebutan oshie.Tapi aku sendiri lebih suka dipanggil atami.Its not my last name,really”
Atami menjelaskan dalam satu tarikan nafas,membuat key terkaget-kaget.Wanita yang aneh...pikirnya,
Dan selanjutnya obrolan pun berjalan.Atami lebih banyak mendominasi percakapan.Itu tak lain bagaimana key lebih banyak mengajukan pertanyaan perihal dirinya,sementara atami sendiri merasa betapa excitednya menjawab semua pertanyaan dari orang asing yang ingin mengenal negeranya lebih menarik dibandingkan dirinya sendiri.
Bagi key,selain karena memang tak ada hal lain yang lebih baik untuk diobrolkan,dibandingkan jika wanita ini bertanya lebih banyak tentang dirinya,yang pasti akan membuat identitasnya semakin terbuka jelas.Dan ini tentu saja akan menjadi sebuah ‘ancaman’ jika hal ini sampai terjadi.
Tanpa mereka sadari,dari kejauhan,dari arah dalam sebuah mobil metalik hitam,seseorang tengah menyorotkan sebuah fokus kamera,dengan beberapa jepretan.Lampu blitz terakhirpun menyala,sampai detik berikutnya,mobil itupun berjalan menjauh meninggalkan kawasan sekolah coenhwa yang semakin tampak lenggang.
...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

FanFic #4

CHAPTER 2



Pesawat dengan nomor KE628 dari jakarta mendarat mulus di landasan udara Incheon International Airport dengan maskapai Korean Airlines.Waktu setempat menunjukkan pukul 9 malam,dengan temperatur udara berkisar antara 6 hingga 15 derajat celcius.Tidak terlalu dingin bagi siapa saja penumpang yang baru pertama kali ini menginjakkan kaki di ranah negeri ginseng yang notabene beriklim empat musim.
Lampu pemasangan seatbelt baru saja di matikan yang menandakan berakhirnya penerbangan yang ditempuh dalam kisaran waktu 7 jam tersebut.Satu persatu,berbarengan dengan ucapan termikasih dari pramugari pesawat yang tetap mecoba untuk menarik garis bibirnya meskipun kelelahan meliputi mereka,penumpang berlalu.Menarik dan mengeluarkan sesuatu dari dalam bagasi atas.Hanya ada beberapa yang masih tetap berada di kursi,menunggu beberapa saat untuk kemudian melanjutkan penerbangan lokal ke tempat lain.
Atami berrusaha sekuat tenaga mengangkat travelbagnya yang lumayan besar.No bagation untuk peralatan sehari-harinya,kecuali buku-bukunya yang sengaja dimasukkan ke dalam tas koper dan berdus-dus kardus.Pertimbangan ini dlakukan karena tidak sedikit waktu yang diperlukannya untuk bisa membaca buku dalam hangul.Yang artinya,jika datang dan belajar di korea,jika dia tak mencari literartur ilmu sama sekali begitu perkuliahannya dimulai,tentu akan ketinggalan jauh.Dan atami,berusaha untuk mengantisipasinya dengan membeli buku-buku terkait sewaktu masih berada di indonesia kemarin.
“Any help,miss ?”
Seorang pramugara telah berdiri manis di samping atami,begitu tahu bahwa untuk usaha kesekian,tetap saja atami terlihat kesulitan dan gagal mengeluarkannya.
Atami mengangguk.
“Yes,please.Kamsahamnida..”
Dan benar saja,hanya dalam sekali tarikan,backpack berukuran ¾ tubuh normal manusia dewasa kebanyakan,akhirnya berhasil dikeluarkan.Atami bisa melihat sedikit kelelahan di wajah pramugara itu.
Dan begitu tas itu telah berada di tangannya,berulang kali atami membungkukkan badannya.Hingga tanpa sadar,atami menabrak pintu keluar menuju tangga bawah penurunan.beberapa pramugarai lainnya terkikik.Atami jadi salah tingkah.Sementara pramugara yang tadi menolongnya hanya melihatnya bingung.
Atami mengosok bagian depan dahinya.Lumayan sakit juga.Gara-gara liatin pramugara cakep c,..untuk standar mata orang indonesia,lumayan bangettt...!!!.Atami berteriak dan meloncat kesil.Setidaknya,beberapa waktu ke depan dia bakal ketemu cowok yang serupa.Tipe idealnya,mata sipit,kulit putih,kalau senyum,senyum manisnya beradu dengan segaris tipis garis mata yang nyaris lenyap.
Belum sempat,atami mikir lebih jauh lagi, tiba-tiba...
“Owc,God !!! Apa ini ??”
Kali ini atami berteriak nyaris bergema,membuat beberapa pramugari dan awak pesawat yang berada di dalam langsung melongok ke luar.Dan terhalang dengan tubuh atami yang masih berdiri di depan pintu keluar.Berbatasan dengan anak tangga pertama menuju bawah.
Beberapa pramugari saling bertanya di antara mereka sendiri dengan bahasa korea yang gak begitu dimengerti ata.
“Oh god,gimana gue bisa nyari pintu keluar ??’
Atami bertanya ke dirinya sendiri.Apa yang dilihatnya tentu saja bikin dia kaget.Sejauh mata memandang,yang ada hanya kesenyapan berbalut dengan kebingungan karena saking banyaknya pintu.Dan semuanya dalam hangul !.
Tuh kan,benar saja dugaan ata.Jelas untuk langsung bisa mempelajari pembacaan tulisan kanji korea itu,gak sekarang.Tapi,tunggu dulu..
Atami segera merogoh saku jaket nya,dan..
Ugh,ketinggalan lagi dalam bagasi.
Atami segera menoleh ke belakang,beberapa pramugara masih ada di sana.Tapi..
Atami akhirnya memutuskan untuk tidak merepotkan pramugara-pramugara itu.Bisa bad image,apalagi sebagai WNA jelas ata nunjukkin banget dari mana dia berasal.Cukup aja deh kejedot pintu tadu,jangan yang lain lagi,pikir atami.
Ata akhirnya memutuskan untuk turun dari pesawat,dan mencoba dengan jalan sendiri berusaha keras mencari pintu mana yang berkemungkinan besar yang menunjukkan jalan menuju di mana ia harus ke luar dan mencari tempat pengambilan bagasi.
“Duh,gelap lagi...anybody here ?”
Atami terus berjalan,mencari seseorang yang bisa dia tanyai.Lapangan terbang incheon secara garis besar berformat sama dengan soekarno-hatta cengkareng,di mana jarak antara pesawat mendarat dengan gerbang utama pemeriksaan tiket penupang harus melewati sekian lorong-lorong.Dalam hati,atami jadi nyesel,kenapa juga dia harus pake acara berlama-lama,jadi penumpang terakhir yang turun.Dan dia pun memandang nelangsa pada backpacknya yang kini terasa keberatan digendongnya.Semua gara-gara benda itu!.Coba saja,atami menuruti perintah ibunya untuk memutuskan membawa koper mini dibandingkan tas gunung yang emang benar-benar menggunung ini.
Atami memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya lagi.Semuanya terlihat lenggang.Tak ada siapapun yang berada di sana.Sekalipun mesin pembawa tumpukan bagasi dari pesawat.Apa mungkin karena ini adalah penerbangan terakhir,batin atami.
Ah sudahlah,toh sekarang,yang terpenting bagaimana caranya agar atami segera mendapatkan sedikit tulisan dalam bahasa latin yang bisa jadi clue agar atami bisa segera keluar,dan menemukan sedikit keramaian.
Baru beberapa langkah mendekati satu pintu yang sebenarnya atami tidak terlalu begitu yakin apakah benar ini pintu yang dia maksud,suara sunyi yang sedari tadi menggema,tiba-tiba terpecahkan oleh langkah sepatu yang berdetak dan itu ternyata menuju ke arahnya !.
Atami menoleh,dan betapa kagetnya dia..sesosok bermantel hitam,dengan topi hitam yang hampir menutupi separuh horizontal wajahnya tampak berlari-lari kecil ke arahnya.
Oh tidak,siapa itu ?
Beberapa pikiran melayang-layang di benaknya.Apa bisa jadi itu seperti film-film action yang sering dia tonton ?? Seorang agent yang sebenarnya dari tadi memburunya,dan ingin mengambil beberapa informasi terkait sesuatu top secret pada dirinya ??
Atami berusaha menghilangkan pikiran macam-macam di dalam benaknya dengan cara memejamkan berkali-kali kedua matanya,berharap bahwa apa yang dilihatnya adalah sebuah kekeliruan mata minus 2 nya.Tapi,semakin dilihat,benar saja..tidak salah !.
Kengerian mendera sangat.Tidak bisa dibayangkan bahwa di kedatangan pertamanya di korea akan disambut dengan hal yang sebegini menegangkannya.
Apa lari saja ?? Tapi lari ke mana ?
Bagaimana kalau pintu yang dibelakangnya ini adalah pintu menuju tempat yang salah,yang tak berhujung alias pintu yang gak tembus ??
Atami menutup wajahnya dengan kedua tangannya.Tapi langkah sosok hitam itu semakin mendekat.Langkah kakinya makin terdengar keras,beradu dengan ketakutan sangat dari atami.Apalagi dari balik jari-jari tangannya,atami melihat sosok itu memasukkan tangan kanannya ke dalam balik mantel sebelah kiri.
What ?? Apa dia pengen narik pistol!.Oh,no...i’m just ordinary people,sir! Batin atami.
Baru saja hendak berteriak,dan tepat sesuatu dikeluarkan dari dalam mantelnya,dan diarahkan pada atami ditengah kegelapan dan sedikit remang-remang dari bawah sinar bulan yang menerangi,sebuah kilauan lampu tiba-tiba menyala,menyilaukan mata,beradu dengan sebuah teriakan kencang.
“NG! NG !”
Atami membuka matanya.Merasakan wajahnya yang menegang,dan menyadari bahwa sesuatu bisa saja keliru.Atau ada tim keamanan yang berhasil menyadari posisi gentingnya ?
Tapi,begitu dibukanya...
Beberapa orang,lebih dari sepuluh ,ternyata telah berdiri di hadapannya.Dengan tampang keheranan mengamati atami dari ujung rambut hingga mata kaki.
Beberapa lampu sorot dinyalakan dan semuanya mengarah padanya,
Atami bengong,belum menyadari apa yang sekarang tengah di alaminya.
Sesosok hitam yang dari tadi berlari menuju ke arahnya,berhenti tepat tidak jauh dari arahnya.Menyorotkan lampu senter ke arahnya.
“What happened this ??”
Seorang pria dengan suara lantang,tengah memegang mikrofon besar bangkit dari tempat duduknya.Di hadapan beberapa payung lampu hitam yang tengah disanggah oleh beberapa orang.
Tahulah atami apa yang sebenarnya sekarang terjadi,
“Mianhamnida,sir.I got the wrong person.she is not kim seoun ah”
Entah siapa nama yang baru saja didengar atami.Yang jelas,dia sampai gak habis pikir,bagaimana bisa dia tersesat ke dalam lokasi yang tak lain adalah tempat berlangsungnya sebuah pengambilan gambar,alias lokasi syuting !.
Laki-laki bermata sipit,dengan pakaian casual,kaos dan celana selutut serta sebuah ikat kepala putih memberi clue tahulah siapa laki-laki ini di sini pikir atami.
Ada tampak kekesalan ditangkap dari wajahnya.Laki-laki itu membuang mukanya ke sisi lain,tapi setelah beberapa detik kemudian mengalihkan pandangannya ke arah atami.
“Who are you,miss ?”
Dia bertanya pada atami,membuatnya kaget.Atami menunjuk wajahnya dengan telunjuk,meminta penegasan apakah benar dirinyalah yang baru saja diajukan pertanyaan.
“there’s anybody except you here now,u know”
Atami kaget karena pertanyaannya barusan.Gila d nih orang,main bentak-bentak aja.
Laki-laki bermantel hitam,yang dari tadi dikiranya penjahat,tiba-tiba mengalihkan percakapan sebelum atami menjelaskan sesuatu..
“Look at there,sir.That is the real plane for us,the shoot outfit.Not this”
Laki-laki itu menunjuk ke sebuah pesawat yang ternyata sama miripnya dengan pesawat yang baru saja ditumpangi atami.Hanya beda no pesawat.
Pantes saja,lo pada salah orang !.
Atami nyaris terkikik pelan kalau saja dia tidak ingat dengan siapa sekarang ia sekarang berada.Sontak,kumpulan orang-orang yang berdiri “diam-diam” sedari tadi dalam kegelapan di hadapannya,dengan langkah sigap segera memindahkan beberapa perlengkapan ke tempat yang berbeda,searah dengan pesawat yang sebenarnya akan mereka pakai sebagai peralatan syuting.
Dan benar saja,tanpa atami sadari,ternyata beberapa kamera gantung besar ikut digerakkan menuju tempat yang sama.Berarti dari tadi orang-orang ini mengambil gambarnya,disangkanya salah satu pemain film yang tengah beradegan turun dari pesawat ?? batin atami.
Lagi-lagi tepat dugaan atami,seorang wanita berambut panjang keluar dari pesawat yang hampir sama dengan penerbangan KE628 nya.Menatap ke arahnya dan tersenyum.Menyadari bahwa sebuah adegan yang dimkasud telah dilakukan oleh orang yang berbeda,yakni atami.
Atami sendiri kali ini memilih untuk tertawa tergelak,membuat beberapa orang menoleh ke arahnya.Termasuk laki-laki bermata sipit yang sedari tadi terlihat marah-marah pada sekitar.
“Mian...” bergegas atami membungkukkan badannya.daripada sesuatu yang lebih rumit lagi terjadi padanya,
Laki-laki bermata sipit itu akhirnya berlalu meninggalkannya tanpa sepatah kata balasan pun terucap.
Atami melengos.Beginikah sebenarnya orang korea itu ?tak seramah seperti yang dibayangkannya ?
Ughf,
“I’m sorry miss..for the mistake”
Laki-laki bermantel gelap itu seperti membaca pikiran atami barusan.Ata membalas bungkukan itu.
Baru saja ia memilih untuk melangkah,sebuah ide melintas di benaknya.
“Excuse me,sir..”
Laki-laki yang disapa itu menoleh.
“Ne..”
“How can i get the exit door here ?”
Tanya ata sopan.
Laki-laki itu tersenyum.
“You can get it there...”
Tunjuknya pada pintu yang terletak bersebelahan dengan pintu dihadapannya.Dan malunya ata,begitu dibacanya sebuah tulisan besar berwarna hitam di atas papan kuning menyala bertuliskan EXIT dengan sebuah ikon lengkap dengan tulisan hangul di atasnya.
Atami nyengir.menyadari kebodohan yang baru saja dilakukannya.
Laki-laki dengan tinggi kira-kira 180 cm itu pun ikut tersenyum.Detik selanjutnya berjalan menjauh meninggalkan atami.
Ketika berjalan pergi,beberapa orang,satu dua tiga kira-kira berjalan mendekatinya.Satu membawa sebuah satu sett baju tergantung dengan tulisan wardrobe,kemudian memilah-memilih di antara beberapa gantung pakaian,lantas mengambil satu dari antara sekian itu.
Sementara yang lainyya tampak tergesa-gesa mengeluarkan sesuatu dari balik tas pinggang yang ternyata berisi beberapa peralatan make up.Dengan telaten,diusapkannya sebuah kuas pembersih pada wajah laki-laki yang baru saja meninggalkan atami.Atami bengong sesaat.Ternyata ia salah lagi,dikiranya laki-laki itu adlah satu dari sekian kru film yang bertugas mengatur beberapa setting serta peralatan di lapangan.
Laki-laki itu melepaskan mantel panjang hitam yang sedari tadi digunakannya.Tampak sebuah kemeja putih panjang yang kemudian digulungnya hingga siku,yang semakin memperkuat bahwa dialah aktor sebenarnya pada syuting kali ini.
Laki-laki itu menoleh sesaat.Membuka topi petsnya,dan tampaklah seluruh ruas wajahnya.
Laki-laki itu tersenyum pada atami sesaat.Dan kemudian berbalik menuju kerumunan orang yang telah menunggunya dengan sorot lampu kamera yang sudah siap merekam aksi dan wajahnya.
Atami merasa de javu.Sepertinya sosok laki-laki itu tak begitu asing dalam penglihatannya.Tubuh tingginya yang menjulang,badan tegap,mata besar tak khas dibandingkan orang-orang pribumi korea kebanyakan,serta yang pastinya...senyum khas itu !.
Ya,ata jadi ingat.Dia jadi ingat dengan orang-orang semodel serupa yang sering di temuinya di indonesa.Orang-orang yang juga kerap ditemuinya dalam keseharian yang sama seperti kerumunan orang-orang ini barusan.Lokasi syuting,sorot lampu penyinar,serta kamera-kamera yang beradu dengan teriakan sutradara memberi aba-aba CUT serta ACTION adalah hal yang baru saja ditinggalkan atami,dan kini membuatnya miss,padahal belum genap setengah hari dia meninggalkan indonesia.Lokasi Syuting !.
Dan ditambah begitu melihat laki-laki “mantel hitam” itu barusan,atami jadi langsung teringat dengan cakepnya orang indonesia,aktor-aktor sinetron stripping yang tiap hari diurisinya!.
Ata jadi ngerasa kangen.
Atami segera maninggalkan tempat tersebut,dan berjalan menuju pintu EXIT yang ditujukan laki-laki yang di kursinya bertuliskan_CHOI MINHO, Director Assistant & Actor_itu
***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

FanFic #3

CHAPTER 1


Sekarang umurku sudah masuki seperempat abad. Usia yang memang tak lagi muda apalagi remaja. Bahkan,di usiaku sekarang ini, aku sudah menikah dee !. Dengan siapa ? kalau kau adalah sahabat-sahabat terdekatku, dan datang pada pesta pernikahanku 3 bulan yang lalu..kau pasti akan tahu dengan siapa aku menikah !
Surprised !. Tak banyak yang mengira dan menyangka bahwa pernikahanku adalah pernikahan lintas budaya. Aku yang notabene pure melayu asli, menikah dengan orang dari pulau jauh seberang...ras bermata sipit! Yang tak pernah kubayangkan, bahkan kumimpikan seumur hidupku!.Korea !.ya, suamiku orang korea, lebih tepatnya korea selatan. Nama aslinya lee jun ki, dari keluarga lee. Dia keturunan asli hanguk (sebutan untuk orang korea). Parasnya ?mm...mata sipit ?jelas..putih ?untuk ukuran kita orang indonesia,putih bangettt...(makanya aku kadang rada minder jalan ma dia,jadi kontras.padahal di kalangan teman-temanku, kulitku sudah terbilang “putihnya indonesia”.Jadi, bisa kau bayangkan seputih apa kulit suamiku itu). Selebihnya ?
Hal yang membuatku paling ngerasa adore banget adalah...he has the brightness smille ever i seen !. dari dulu c, aku emang suka ma cowok yang punya senyum bagus, ditunjang ma phisic tipikal ku (yang gak gendut, cukup stylish, lebih tinggi dariku, dan pastinya...smart!)Plus tambahan penting_aku suka cowok mata sipit !.
How lucky i am...
Pernikahanku dihadiri hanya oleh kerabat terdekatku. Keluarga suamiku ?big surprised...lumayan banyak juga yang datang (i mean, ketika pernikahan bergiliran dilaksanakan di tanah kelahiranku).hanya saja, bisa kau tebak, betapa sangat anehnya mereka terlihat (keluarga suamiku). Kontras sekali dengan orang-orang disekitarku. Dan tentunya sedikit merasa kesulitan dalam hal komunikasi.Bisa dihitung dengan jari, di keluarga ku yang bisa berkomunikasi dalam bahasa inggris, apalagi korea ! (pengecualian, aku pastinya).Untungnya, aku dan suamiku,memutuskan untuk menyewa translator khusus untuk stanby bersama keluarga suamiku sepanjang mereka berada di indonesia.
Dan minggu depan, ya...giliran aku dan keluarga ku yang akan berangkat ke sana.Seoul.Tapi rencananya, upacara pernikahan kita tidak dilangsungkan di seoul (atas dasar pertimbangan betapa kota ini tak begitu kondusif untuk sebuah acara keluarga yang hommy), melainkan di tempat asal keluarga lee.
Yang akan datang, orang tua ku, dan dua kakak laki-laki dan perempuan, serta kakak ipar ku yang pastinya. Selebihnya, mengingat betapa jauhnya indonesia-seoul, dan perbedaan musim yang significant, maka keputusan keluarga akhirnya memilih untuk tak semua ikut.
Oya, dan satu lagi..sahabat terdekatku !.Amel dan Koko !.
Rencnaya, pada pesta pernikahan nanti...untuk pertama kalinya, aku akan dirias se-korea mungkin, ala pengantin korea, dengan hanbok warna terangnya.Begitu juga dengan suamiku.
Sudah tak sabar rasanya menanti saat itu..saat di mana dua orang, dua keluarga, dan dua bangsa dipersatukan ! dalam suatu ikatan sakral,ikatan Tuhan!.
Thanks God !
*-*-*
Persiapan pernikahan di korea ternyata tak serumit dibandingkan kultur indonesia.Tak ada istilahnya perayaan 7 hari 7 malam berturut-turut, hidangan ala kadarnya, dan riasan dekorasi yang tak se-wah dibandingkan saat perayaan pernikahanku di indonesia.
Jadi wajar, betapa mom sedikit shocked dengan apa yang dialaminya di sini. Dan ini tentu saja, berikutnya kujelaskan dengan seksama mungkin, bahwa beginilah adat mereka.Dan mereka pun bisa saja merasakan hal yang sama, ketika menyaksikan pemandangan yang kontras ketika di Indonesia.Bukan berarti perbedaan tersebut merupakan perwujudan antusiasme penyelenggaraan.
Hanya saja, satu hal yang dari jauh-jauh hari telah kubicarakan dengan lee jun ki, bahwa..mengingat keluargaku adalah muslim, jadi perayaan minum soju (minuman alkohol khas korea) kuharap ditiadakan. Sedikit menghindari kemungkinan salah interpretasi dari pihak keluargaku.Dan thanks God, ternyata pihak keluarga suamiku pun ternyata juga berpikiran yang sama.Dan ini juga menjadi bukti betapa telah diterimanya diriku di keluarga besar Lee !.
Persiapannya sendiri tak memakan waktu sehari, karena semuanya memang telah dipersiapkan oleh adik iparku satu-satunya,lee hyo ri, terpaut dua tahun dibawah usiaku.Betapa beruntungnya diriku,mendapatkan keluarga yang benar-benar tidak hanya menerimaku, tapi juga menerima keluarga besarku.Terlihat bagaimana keluarga pihak suamiku mencoba untuk menjamu dan memperlakukan mom dan dad untuk merasa betah selama mereka berada di korea. Salah satunya tradisi membuat kimchi bersama. Dan oh, mr.kim (translator lingua keluarga) sangat kerepotan sekali karena harus menerjemahkan obrolan mereka dalam waktu yang tak lama,dan pastinya harus diterjemahkan mengikuti feel yang ada.Dan kulihat,ia pun juga menikmati obrolan panjang tersebut, karena baik indonesia maupun korea, kedua-duanya adlah bidang yang diminati dan dikuasai oleh mr.kim.
“Kita tak ikut membuat kimchi bersama mereka ?”
Tanyaku pada onew,panggilan akrab suamiku_disuatu siang ketika kami lagi beristirahat di sebuah gazebo tak jauh dari rumah utama keluarga.Hanya ada aku dan suamiku.Setelah sejam yang lalu, sibuk dengan aktivitas membersihkan seluruh rumah,karena besok pernikahanku akan di gelar. Rumah_tempat di mana acara besar ini digelar sebenarnya merupakan rumah keluarga lee.Peninggalan leluhur,karena rumah ini hanya digunakan pada saat acara keluarga berlangsung.Salah satunya,upacara dan pesta pernikahan.Diluar acara-acara itu,rumah ini tidak pernah ditempati.jadi wajar saja,ketika datang ke sini,kondisi rumah sedikit memerlukan upaya pembenahan.
Rumah ini ibarat rumah gadang bagi keluarga minang (kalau di Indonesia).Dengan luas yang cukup menampung hampir 4x rumahku di Indonesia, arsitektur rumah kuno tradisional korea dengan ciri khas tiang-tiang rumah di setiap sekian meter teras depan rumah_penyekat dinding kayu geser tiap-tiap ruangan,membuat suasana kental korea semakin terasa.
“Kau mau ikut membuat kimchi ?” tanyanya sambil matanya tak luput dari daftar nama-nama tamu yang akan datang.Salah satunya sahabat-sahabatnya, jonghyun,taemin,key,dan minho.
“Kalau kau lebih membutuhkanku untuk masih berada di sini_sepertinya lain kali saja”ucapku diiringi senyum khas onew.
“Apa key akan datang untuk besok ?” tanyaku ketika menyadari bahwa salah satu sahabat,yang berkemungkinan tidak akan datang adalah key_karena berhalangan hadir di kanada.
“Aku sudah mengusahakannya,hon..kita tinggal menunggu kabar darinya” ucap onew padaku.Aku tahu dia tahu bagaimana kekhawatiranku.Karena key,dan ketiga anggota shinee lainnya adalah tamu yang sangat kuharapkan hadir pada pernikahan kami kelak.Tanpa mereka lengkap, acaranyapun diperkirakan tidak akan semeriah dan sehangat seperti apa yang kami harapkan.
Onew merangkulku erat.Sedikit banyak aku merasa tenang,setidaknya.
Kubalas dekapannya erta,kupandangi wajahnya,dan onew mambalasku dengan hal yang sama,dengan seulas senyum khasnya.
“Kamsa...”bisikku pelan ditelinganya.
*-*-*
“Kau yakin tidak ingin kuantar ?”onew bertanya kepadaku,satu menit sebelum kulangkahkan kaki menuju N-tower,seoul.Tujuanku ke sana tak lain,aku ingin menjemput amel dan ako yang baru saja tiba di korea,satu jam yang lalu.karena sebelumnya begitu kukabari bahwa saat ini aku tak sedang berada di soeul,maka telah kusarankan agar mereka beristirahat sejenak di seoul,dan N-tower merupakan tempat yang paling strategis untuk transit sejenak.sembari menunggu kedatanganku untuk menjemput mereka ke daejon.
“tidak usah,hon..aku bisa sendiri.dan aku tidak ingin merepotkanmu.bukankah hari ini paman jihoo datang ke sini ?kau sambutlah ia” ucapku begitu kulihat betapa khawatirnya suamiku itu begitu tahu bahwa aku akan pergi seorang diri ke seoul.
“dan ini bukan kali pertamanya aku ke sana” lanjutku pula.
Aku tak begitu yakin dengan apa yang kuucapkan barusan.Tapi setidaknya, perubahan yang kulihat pada mimik wajahnya membuatku yakin bahwa ia pasti bisa melepasku pergi sendiri,dengan kepercayaannya.
“well...baiklah,tapi kau harus berhati-hati...kalau ada apa-apa,lupa jalan pulang,beritahu aku..”
Ucap onew sembari memelukku erat.Terlalu sedikit beresiko memang,mengingat besok adalah hari pernikahan kami.Tapi di sisi lain aku pun akan merasa sedikit sungkan,karena beberapa jam lagi,keluarga besar onew dari pihak ibu akan segera datang.
“Hon,korea bukan indonesia,aku yakin i’ll be okay”
Onew melepasku seperti biasanya.
Dan tak lupa kukabari perihal ini pada pihak keluarga yang lain.Dan mengabari bahwa aku akan kembali secepat mungkin.
Kulangkahkan kaki menuju naekdongsae terdekat.Onew ikut mengantarku hingga pemberhentian trem terdekat.
Beberapa menit setelah itu kulambaikan tanganku padanya yang lambat laun telah hilang dari pandangan mataku.Trem membawaku sedikit menjauh.Dibutuhkan waktu kurang lebih 45 menit untuk mencapai seoul,yang kemudian dilanjutkan 5 menit menuju tempat berhentian trem tepat di depan N-tower.
Hari ini rumah keluarga adat lee akan semakin ramai.Selain keluarga kerabat lee akan datang ke daejon,satu jam yang lalu,onew mengabariku bahwa beberapa anggota shinee yang lainnya pun akan datang ke daejon.Entah apakah beberapa di antara mereka adalah dongsaeng taemin,key,jonghyun,atau minho.
Aku memandangi langit di atas sana.Tanpa kuduga sebelumnya langit gelap pekat ternyata telah menaungi mungkin hampir sebagian besar kawasan daejon ke utara,dan bisa saja hingga kota seoul.Dan aku, tak membawa sedikit persiapan apapun.
*-*-*
Tess.
Butiran besar dari langit jatuh tepat saat kulangkahkan kaki keluar dari naekdongsae trem perbatasan masuk kota seoul.Diikuti kemudian hujan pun turun begitu derasnya,mengguyur basah kota seoul pada sore hari itu.Beberapa orang yang tak tahu bahwa hujan akan turun dengan sebegitu lebat dan tiba-tibanya,dan masih berada di sepanjang jalan kota,tampak kewalahan,berlari menuju tempat berteduh.begitu juga dengan diriku.Tak ada payung,hanya sebuah mantel.Dan itu pun tanpa penutup kepala.Yang berarti,jika aku kalah langkah saja dengan tetesan air hujan ini,maka bersiaplah guyuran ini akan membasahiku.
Kulangkahkan kaki menuju tempat terdekat di mana bisa kutuju untuk berteduh.Tapi sampai beberapa langkah ini melaju,semuanya penuh.Seoul merupakan kota dengan bangunan terdesaign tanpa teras kebanyakan.Kalaupun ada,itu tak lain hanya pelataran depan sebuah kedai minum,dan itu artinya jika harus singgah di sana,barang tidak harus memesan secangkir atau dua minimal minuman.Dan ini,tentu akan menambah lama waktu perjalananku menuju N-tower yang harus kulewati dengan sekali perjalanan dalam trem lagi.Dan untuk mencapai naekdongsae terdekat,setidaknya 200 meter lagi.Tidak untuk perjalanan dalam sedikit badai hujan seperti ini.
Kulangkahkan lebih jauh lagi.Dan hujan pun makin turun semakin lebatnya.Tak biasanya begini.
Kucari pohon terdekat,setidaknya mampu mengurangi tetesan air yang mengenaiku,meskipun sekarang sebagian besar hujan telah membasahi mantelku.
Baru beberapa langkah dari tempat tersebut,seseorang kusadari menatap ke arahku.Sepertinya aku mengenalinya,dan...
“Unnie” panggilnya pelan dengan suara beratnya.Dan semakin dekat,aku tahu bahwa orang itu adalah,
“Minho ?? bagaimaa bisa kau berada di sini ?” tanyaku seketika,karena ku tahu,lelaki yang menyapaku barusan,adalah seseorang yang telah lama tak kutemui dalam sebulan belakangan ini.
Minho tersenyum singkat. Pakaiannya basah,.Sama sepertiku,hanya sebuah tas tangan terselip dibalik himpitan lengannya.
“Benar dugaan saya,saya akan berjumpa dengan unnie lagi di sini”
Ada binar terpanacar dari mata minho.dan membuat langlahku sedikit terhenti sesaat.
*-*-*
“Silahkan masuk”
Pintu sebuah flat dengan nomor 43 berwarna khaki berada persis di hadapanku.Flat sederhana berwarna putih terang,masih kelihatan baru dari warna dan baunya yang khas.
“Di sini saya tinggal selama beberapa bulan belakangan ini”
Minho melepas sepatunya yang ikut basah,menutup payung serta mengeluarkan sesuatu dari balik saku mantelnya.Sebuah kunci.Dan lantas membuka pintu dengan bunyi kreett.
“Mari masuk”
Minho menyilakan aku untuk terlebih masuk ke dalam ruangan yang bagiku baru pertama kali ini memasukinya.yang di dalamnya sama putihnya,sederhana.
Ada perasaan lain pada langkah pertamaku.Dekorasi renda di tiap meja serta tirai pemisah antar ruangan seolah tak begitu asing bagiku.
“Aku menuruti saranmu,unnie.Dan benar saja,semua ini membuatku menemukan sesuatu yang baru setiap awal harinya”
Aku menoleh.minho baru saja meletakkan sepatuku di rak kecil di belakang pintu menuju dapur. Ada perlengkapan masak di sana,tak ada satupun bekas makanan tertinggal di tiap sudut meja masak ataupun meja makan kecil di seberangnya. Ada satu meja kecil dengan taplak kain putih rajutan.Mataku terpaku pada hal yang baru saja kulihat.
“Terimakasih kau mau menggunakannya” ucapku.Rajutan itu adalah hadiah ulang tahunku padanya di tahun yang lalu.
Minho memamerkan deretan gigi putihnya.
“kau belum mengganti pakaianmu yang masih basah”
“yah..mian,”
Minho meninggalkanku di ruang tamu kecil flatnya.Entah kemana,mungkin mengganti bajunya untuk beberapa saat.
Mataku memandang ke sekeliling.Hujan masih turun begitu derasnya di luar.Rembesan air hujan menjamah kaca jendela,terhalang korden yang sama putihnya pula.Ada satu hal yang menarik minatku pada apa yang kutangkap barusan.Di dinding terdapat beberapa bingkai foto kayu mahoni cokelat muda.Aku tahu,demikianlah selera minho.Tak terlalu begitu suka dengan sesuatu yang mewah.Tapi anehnya,justru tak ada sesuatu di dalam sana !.Tak ada foto, lukisan,atau gambar sesuatu pun pada bingkai itu..,
Begitu juga dengan vas bunga yang tergeletak di atas meja berkaki rendah.Tak ada bunga di dalamnya,
“mengapa kau,”
“kau bisa mengganti pakaianmu dengan ini”
Aku terkejut.minho telah berada di sampingku.
“apakah aku mengagetkanmu barusan ?”
Aku mengelus dadaku.tentu saja.
Minho tertawa melihat tingkahku barusan.dia tahu,aku paling tidak bisa jika tiba-tiba saja hadir dan membuyarkan apa yang baru saja kupikirkan.
“mian unnie.” Dan lagi-lagi ia tertawa pelan.
“gantilah pakaianmu.kau bisa masuk angin jika berlama-lama dengan pakaian basahmu”
Minho menyodorkan satu stel pakaian yang ku tahu itu pasti bukan pakaian wanita.dan benar saja,ketika ku ambil,ada satu buah kemeja putih ukuran sedikit lebih besar dari ukuranku,dan satu buah celana kain, yang telah bisa kuterka pasti akan kepanjangan untuk kupakai.
“tenang saja,itu bukan ukuranku.meskipun,mungkin tetap saja ukuran itu belum tentu juga pas untuk mu”
Aku melongo heran.tapi sudahlah,toh setidaknya aku bisa pulang dengan pakaian kering.
“kau bisa menggunakan kamar mandi di belakang sana untuk berganti pakaian.tapi,”
Minho menghentikan ucapannya.
“tapi kenapa ?” tanyaku heran.
Minho diam sejenak.ada sesuatu yang ingin diucapkannya.
“tidak,..tidak apa-apa.maksudku,kalau kau perlu sesuatu yang lain,katakan saja”
Ternyata..,
“kupikir..,.sudahlah,aku sudah tak tahan dengan dingin ini”
Aku berlalu meninggalkan minho yang bagiku masih ada sesuatu yang ingin diucapkannya.Mungkin saja sesuatu tertinggal di dalam kamar mandinya,dan lupa untuk diambilnya,begitu tahu bahwa aku akan menggunakan kamar mandi itu.Hatiku terkikik geli.Tapi sudahlah,
Aku menoleh.minho masih terpaku di sana.
“ada yang mau kau ambil sebelum aku menggunakan kamar mandimu ?” tawarku.
Tapi minho memberi isyarat_nothing.Dan akupun berlalu
*-*-*
Atami merapatkan tangannya lebih erat pada permukaan cangkir yang berisi cokelat panas buatan minho.Udara terasa semakin dingin,meniupkan bulu kuduk,masuk lewat celah lubang jendela yang dibiarkan setengah terbuka.
Sementara minho hanya sesekali menyeruput isi dalam cangkirnya,membiarkan kuap panasnya menyentuh pelan hidungnya,yang hanya berjarak sekian centimeter dari bibir cangkir.
Keheningan menyergap dari satu menit terakhir setelah minho menawarkan minuman panas itu pada atami yang baginya terlihat menggigil sekalipun sudah berganti pakaian.Yang ada hanya bunyi jarum jam di dinding tepat di belakangnya,yang berbunyi tikk saat bergeser dari angka satu ke angka sebelahnya.
Hujan baru saja berhenti beberapa detik yang lalu.Menyisakan udara basah bercampur semburat hangatnya matahari sore.Menyelusup melalui celah-celah dedaunan di seberang bawah sana.
“Aku suka dengan cuaca seperti ini” keheningan pun akhirnya terpecahkan.
Atami menggeser duduknya perlahan,untuk menjangkau lebih dekat lagi dengan jendela yang menghadap ke tepi sungai yang berada persis di sebelah flat yang ditempati minho. Merasakan sedikit angin yang menerpa anak rambutnya membuatnya tahu persis bahwa telah lama ia tak merasakan hal seperti ini semenjak keberadaannya di korea beberapa saat terakhir ini.
Minho hanya mengamati dari balik sudut matanya,yang ditangkap oleh atami justru seperti sedang tak bergeming pada apa yang baru saja di ucapkannya.Pernyataan retoris.Bagi minho,tiap perkataan yang dikeluarkan sepelan apapun dari atami,ia dapat mendengarnya.
Atami terlihat berbeda kali ini.Bahkan dibanding dengan saat terakhir kalinya mereka bertemu di tempat yang sama.Minho tak ingat, persisnya kapan.
“Aku kangen pulang” ucap atami pelan.
Minho terkikik pelan,nyaris tak terdengar,kalau saja berhasil dikalahkan bunyi detak jarum jam dinding di belakangnya.
Atami menoleh.
“Hey,aku serius.Kalau saja saat ini__”
Atami menghentikan ucapannya.Ia tahu,sesuatu baru saja akan dikeluarkannya kalau saja ia tak ingat pada apa yang mungkin saja ditanggapi seorang minho padanya jika perkataan itu akan keluar sempurna dari mulutnya.
Minho menoleh.Menunggu detik saat atami melanjutkan ucapannya barusan.
“kalau saja...kalau saja aku lupa kalau onew tentu tak akan mengizinkanku untuk kembali ke indonesia”
Atami semakin menggeser duduknya secepat yang dia bisa.Tapi terlambat,minho keburu tahu apa yang baru saja didapati dari perubahan ekspresi pada atami.
Minho membenamkan pandangannya pada lingkaran latte panas yang kini krimnya malah tak berbentuk.sperti perasaannya saat ini.Onew...lagi-lagi nama itu disebut,meskipun ia tahu,terkadang tak selamanya ia harus berjibaku pada perasaan ini.Bukankah,semuanya sudah jelas,bahwa kesempatan baginya benar-benar hilang.
Atami menoleh ke langit lepas.Hamparan langit biru luas yang tak berawan,kini terasa makin membuat perasaannya lapang.Ia tahu jauh di sana,seseorang tengah menanti kepulangannya.Tapi entah kenapa,ia tetap saja tak bergeming,merasakan tiap detik berlalu,tanpa mengubah sedikitpun niatnya untuk beranjak dari tempat ini.
Ia tahu,dari arah pandangan mata lainnya,di balik pantulan kaca jendela yang tertimpa sinar matahari sore_minho pun tengah menatap ke arahnya.Tanpa disadarinya.
Perasaan itu untuk kesekian kalinya terulang...entah harus bagaimana lagi dia menyikapinya.semuanya terasa kosong,
Dan refleks,minho mendekap atami dari belakang,membuatnya tak mampu bernafas bahkan untuk satu tarikan pun,
“Tolong,jangan pergi...”
Atami tak melepas atau pun mempererat dekapan itu.Matanya menatap kosong ke depan,
Ia tahu,dirasakannya dekapan itu makin tak mengendur.
Atami memejamkan matanya perlahan,mencoba mencari satu bayangan wajah yang akan muncul pada pikirannya kali ini,
Tapi semua tetap terasa___kosong.
*-*-*

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

FanFic #2

Prolog



“Sudah lama berpulang...Mian,”
Seorang wanita tengah berbicara pada seorang laki-laki, di tempat pemberhentian subway kota setempat, sambil mmebungkukkan badannya.
Lelaki dengan jas berwarna putih gading, yang ditemuinya beberapa jam yang lalu, ditempat yang berbeda tengah berbicara sambil matanya sesekali tak lepas memandangi keadaan sekitar, yang tak lain_tak ada siapa-siapa di sana.Selain mereka, dan seorang laki- laki muda penjaga pintu subway, yang kini tak mungkin jika ikut terlibat dalam percakapan mereka, karena telah terpekur beberapa kali dalam kantuknya.
Cuaca di kota seoul pada saat itu cukup menunjukkan berapa derajat celcius yang mesti dilalui oleh setiap orang yang sebagian belum terjaga dari aktivitas yang saat ini tengah dilakukankkanya.Termasuk pada tiga orang yang kini tersisa di pemberhetian subway express, sekalipun hari telah menunjukkan waktu yang tak begitu normal dilakukan pada orang kebanyakan.
“Sebagian kabar telah saya dengar setahun belakangan ini.Tapi, ada hal lain yang membuat saya tidak ingin mempercayainya”
“Kalau boleh saya tahu, perihal apa yang anda ketahui itu ?”
Lelaki dengan kacamata yang berbundar bulat, tampak mencoba untuk mencari tahu lebih dalam lagi perihal informasi yang mebuatnya sedikit bergairah untuk memahami semuanya.
“Untuk itulah saya meminta anda untuk datang ke sini.Saya yakin, sedikit banyak, saya bisa mendapatkan beberapa petunjuk dari anda”
Kembali wanita itu menghela nafas barang sejenak, mencoba menghimpun keberaniannya untuk mengutarakan apa yang selama ini ingin disampaikannya.
“Kalau anda rasa keberadaan saya dinilai membantu, apapun itu akan saya usahakan”
Lelaki itu membungkuk pelan, yang kemudian dibalas dengan hal yang serupa oleh wanita disebelahnya.
Hening untuk beberapa saat, lelaki itu tahu kalau saat ini sesuatu tengah coba dipersiapkan oleh wanita itu. Dan ia pun telah mempersiapkan semuanya, pada apa yang mungkin akan ditujukan padanya. Dan pastinya, sesuatu yang tak biasa.
“Anda_percaya pada apa yang namanya,reinkarnasi ?”
Dan benar saja, sesuatu yang tak biasa itu menjadi hantaman yang lumayan keras bagi indera pemikirannya.
“Bagaimana anda bisa menyakan hal tersebut ? alam bawah sadar seorang manusia sekalipun. Tetap tak mampu untuk memunculkannya. Jangan main-main terhadap apa yang anda katakan,nyonya”
Ada gurat tak puas pada wanita tersebut,ketika sedetik sebelumnya ia tak mendapatkan apa yang dimaunya dari lelaki yang membuang mukanya ke arah yang berlawanan.
“Katakan pada saya, seperti apa yang anda rasakan ketika kembali ke dimensi waktu lampau yang membuat anda yakin bahwa hal ini bukan hanya sekedar omongan bualan beberap orang saja ?!”
Wanita itu tetap memaksa dengan dorongan emotional yang kini mulai bagkit membuat lelaki itu kembali harus berpikir keras.
“Nyonya, anda harus paham betul konsekuensi yang anda tanggung dari perkataan yang baru saja anda lontarkan ?!”
Lelaki itu tak kalah sengit, membuat angin malam berhembus tak lagi terlalu dingin bagi mereka. Suasana makin menegang.
“Entah seperti apa pemikiran yang anda nilai terhadap saya
“Saya sudah mengetahuinya nyonya..Saya harap anda bisa memakluminya”
Lelaki yang kira berumur 50 tahun itu mulai mengerti ke arah mana dan kapan ia harus menyudahi obrolannya kali ini. Sudah berjam-jam mereka berada di situ, dalam beberapa pergantian orang yang berlalu lalang cepat.
Perempuan yang diajak berbicara itupun, dengan sweater woll yang mulai tampak terbias oleh udara malam yang kini telah berubah menjadi embun yang jika didiamkan akan berubah menjadi titik-titik kecil air yang mencair.
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari waktu setempat.
“Saya tak bisa membantu banyak.Meskipun saya paham dengan kesulitan yang anda rasakan saat ini”
Perempuan itu tetap tak bisa memaksa.Bagaimanapun, pencariannya sejauh ini akan mebawa pada satu kepastian yang utuh ‘bahwa dia tak akan mampu menemukan apa yang dia cari selama ini”.
Dan subway malam itupun terasa tak begitu lampang baginya.Desahan napas berkabut meningkahi dinginnya udara malam, saat lelaki paruh baya itu memohon pamit meninggalkannya.
Semuanya sudah jelas....
*---

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

FanFic #1

Naeksoengdae*!
By. Oshie Atami




“..Sulit mempercayai, sebuah masterpiece potongan mimpi masa remaja, yang dikemas dengan sebegitu indahnya dalam paket dokumenter seri pribadi perjalanan hidup seorang oshie atami.Tribute for her!..”
(Dee, penulis “Perahu Kertas”; trilogy “Supernova”, & “Filosofi Kopi”)


“Membacanya semakin membuat saya ingin memflashback kehidupan cinta masa lalu saya.Hingga saya bertekad untuk memperjuangkannya sejauh apapun itu sulit diraih,seperti halnya yang dilakukan oleh penulis muda indonesia kita,oshie atami”
(Nia Dinata,sineas wanita indonesia)


“...lebih dari sekedar metropop, lagi-lagi..Seorang oshie atami menghadirkan sisi lain dalam tiap karyanya.Must Read!..”
(Gita Moran, Chef Editor GoGirl! Magazine)


“Perbedaan lingua,lintas budaya tak menjadi masalah..Haru biru yang dikemas dalam fitur berbeda versi seorang oshie atami”
(Christine JV Tungka, pengamat budaya korea)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

#1

TAUTAN MORFOLOGI, TRANSPORT, DAN LINGKUNGAN KOTA: PERSPEKTIF KEBIJAKAN KOTA-KOTA JEPANG



Muhammad Sani Roychansyah

Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

E-mail: saniroy@ugm.ac.id


 

1.  Trimatra Kota: Morfologi, Transportasi, dan Lingkungan



Kota secara garis besar, terutama dilihat dari makro-fisik kota, bisa dibedakan ke dalam 3 bagian yang besar atau trimatra. Pertama, bentuk kota yang menggambarkan perwujudan fisik kota yang sangat dipengaruhi oleh fungsi lahan perkotaan, termasuk pembagian maupun penggunaan ruang oleh beragam aktivitas dalam kota. Kedua, transportasi kota yang berfungsi sebagai penghubung warga, barang, dan kegiatan manusia antar-ruang kota. Keduanya, menurut Wegener (2005), mempunyai hubungan kuat untuk mempengaruhi kondisi lingkungan kota. Sebaliknya, kondisi lingkungan akan secara langsung memberi umpan balik pada model morfologi sebuah kota dan model transportasinya (Gambar 1).





Gb. 1. Tautan antara Morfologi, Transportasi, dan Lingkungan (diadopsi dari Wegener, 2004).



Perubahan berbagai faktor dalam sebuah entitas wilayah kota (penduduk, sosial, ekonomi, budaya, lingkungan alam, dan lain sebagainya) akan membawa perubahan pada ketiganya. Perubahan pada morfologi kota membawa perubahan cepat pada transportasi dan lingkungan kota. Sebaliknya kondisi transportasi yang berubah cepat ini, meskipun lambat, akan membawa perubahan pada bentukan dan lingkungan kota selanjutnya. Akibat sifat perubahan yang cepat (fast speed of change) pada matra transportasi ini, maka perubahan kebijakan transportasi kota pun lebih dinamis dibandingkan matra yang lain. Tautan aksi-reaksi ini berjalan begitu dinamis dan menerus-menerus seiring dengan perubahan waktu, seperti diilustrasikan pada Gambar 2.



Dewasa ini, masalah pelik isu lingkungan yang makin tidak bersahabat dan beberapa ide responsif untuk mengusung pembangunan yang makin bersahabat dengan masa depan dalam sebuah ruang kota (sustainable urban development), menempatkan ketiga matra ini sebagai titik terpenting menuju perubahan yang lebih baik. Seiring perkembangan ilmu dan teknologi perubahan-perubahan interaksi ketiganya dapat diprediksi jauh hari sebelumnya. Dengan sebuah “urban model” yang berguna untuk mensimulasikan interaksi ketiganya, para pengambil kebijakan makin terbantu tugasnya. Hal ini bermanfaat dalam tataran perencanaan kota, terutama untuk memberi arahan pengembangan kota dalam jangka panjang sekaligus sangat baik dalam tataran evaluasi program terutama untuk menghindari efek buruk perubahan yang telah terjadi.

 



Gb. 2 Sekuen Aksi-Reaksi pada Perubahan Morfologi, Transportasi, dan Lingkungan.



2.  Perkembangan Model Tautan di Jepang



Riset model tautan morfologi, transportasi, dan lingkungan kota ini telah berkembang dengan pesat, terutama di Amerika, Eropa, dan sebagian kecil Asia terutama di Jepang. Sampai saat ini perkembangan hasil analisis (output) model-model ini makin lengkap dan sangat komprehensif, Namun, penerapannya untuk program nyata masih terbatas, terutama untuk kota-kota metropolitan yang mempunyai kompleksitas permasalahan tinggi dan hanya terlayani oleh beberapa model saja, seperti Tranus (De la Barra, 1989).





Gb. 3 Efek Implementasi Kebijakan Kota, baik Tunggal maupun Kombinasi, pada Beberapa Indikator Transportasi di Kota Sapporo, Hokkaido (Roychansyah, 2002)



Terbukti, berdasar studi Roychansyah (2002) maupun Vichiensan dkk. (2005) untuk Kota Sendai dan Kota Sapporo, Jepang, urban model tersebut (TRANUS) memang mampu memberi arah kebijakan jangka panjang yang paling menguntungkan untuk mendukung skenario pembangunan berkelanjutan. Hasil secara keseluruhan dibandingkan “Do Nothing” atau tanpa kebijakan khusus dan membiarkannya sesuai kondisi saat ini, penerapan sebuah kebijakan yang relevan mampu menghasilkan efek positif untuk jangka menengah maupun jangka panjang. Terlebih lagi, seperti terlihat dalam Gambar 3, untuk Kota Sapporo, Hokkaido, kombinasi 2 kebijakan yang saling mendukung akan mampu memberi hasil yang lebih optimal lewat beberapa indikator transportasi ramah lingkungan, dibanding penerapan sebuah kebijakan tunggal misalnya. Kebijakan itu adalah kebijakan Cordon Line atau pembatasan eksklusif sebuah daerah dalam kota dengan menarik tarif lebih bagi kendaraan yang memasukinya, kebijakan Prioritas Transportasi Umum (Public Transport Priority) dengan jalan subsidi tambahan untuk kendaraan umum sehingga bertarif lebih murah, dan kombinasi antara keduanya.



Lebih lanjut, perubahan struktur sosial masyarakat yang saat ini terjadi di Jepang secara langsung turut mempengaruhi lahirnya beberapa pendekatan baru dalam penciptaan kualitas hidup yang lebih baik melalui kebijakan-kebijakan ujud kota, transportasi, maupun lingkungannya. Bila kota-kota lain di Asia masih dalam taraf penggelembungan penduduk dan perluasan wilayah kota-kota mereka, maka Jepang saat ini mengalami hal sebaliknya.

 







Gb. 4 Skenario Pertumbuhan Kota-Kota di Jepang (Atas) dan Kota-Kota di Asia (bawah) dan Beberapa Indikasi Perubahan yang Terjadi pada Bentuk Kota, Transportasi, Lingkungan, Maupun Pengelolaan di Dalamnya.

 

Analisis terakhir dari IPSS (National Institute of Population and Social Security Research) tahun 2007 lalu, yang menggunakan data sensus penduduk tahun 2005 sebagai dasar analisisnya, saat ini penduduk manula Jepang (65 tahun ke atas) telah mencapai 20.1% dari total penduduk yang ada. Jumlah ini akan mengalami pelipatgandaan pada tahun 2050 nanti. Jika pada tahun 2005 satu penduduk manula ditopang oleh 3.3 penduduk usia produktif, maka pada tahun 2050 itu penduduk manula hanya akan ditopang oleh 1.3 penduduk usia produktif. Secara langsung ini berpengaruh pada eksistensi kota maupun wilayah di Jepang, yang beberapa di antaranya telah mengalami apa yang disebut genkai shuuraku atau kesulitan untuk menjalankan hidup normal sehari-hari dalam sebuah wilayah dikarenakan menuanya penduduk dan depopulasi yang sangat mencemaskan. Perbedaan kondisi antara apa yang tengah terjadi di Jepang yang mungkin akan menimpa kota-kota di luar Jepang pada suatu saat dan kota-kota di Asia lainnya bisa diilustrasikan seperti pada Gambar 4.



3. Implementasi Kebijakan Kota-Kota Jepang



Dengan melihat kondisi yang terjadi di Jepang, yakni perubahan struktur masyarakat yang makin menyusut dan menua di satu sisi dan tuntutan untuk lebih memprioritaskan keselarasan hidup dengan lingkungan dan masa depan di sisi lain, maka beberapa kebijakan kota-kota di Jepang secara umum telah mulai condong untuk mengantisipasi keduanya. Meskipun begitu, beberapa perbedaan besaran masalah dan spesifikasi maupun prioritas kebijakan antara kota besar, menengah, dan kecil sangat berlainan. Tentu saja karena meskipun permasalahan yang dihadapi mirip, tetapi skala masalah maupun karakter wilayah cukup berbeda. Dalam Gambar 5 sebagai contoh, kota-kota yang termasuk 40 besar di Jepang saja mempunyai sebaran yang luas saat dipetakan potensi mereka untuk mengadopsi skenario “Kota Kompak” sebagai salah satu alternatif pembangunan kota yang berkelanjutan.

Gb. 5 Pemetaan Potensi 40 Kota Besar di Jepang Berdasar Atribut Kota Kompak: Densifikasi Penduduk, Konsentrasi Kegiatan, Transportasi Umum yang Intensif, Ukuran Kota, dan Kesejahteraan (Sumber: Roychansyah, 2005).

Di tingkat nasional, untuk mengantisipasi beberapa perubahan yang terjadi, secara garis besar kebijakan kota-kota Jepang diarahkan pada pencapaian keselarasan antara penduduk kota dengan kualitas hidup yang tinggi, dukungan layanan kota dalam kehidupan kota yang optimal sehari-hari, maupun kondisi yang lebih mandiri serta aman dari gangguan atau pun bencana alam. Kebijakan makro kota ini langsung dikendalikan oleh sebuah komite khusus langsung di bawah komando Perdana Menteri, bernama chiiki kasseika tougou honbu kaigou (komisi gabungan kegiatan wilayah). Di dalam komisi gabungan ini terdapat empat komite khusus yang masing-masing membidangi peremajaan kembali kota, peremajaan kembali wilayah, pengoptimalan (kembali) pusat kota, dan reformasi struktur wilayah khusus.



Di bagian lain, pergeseran kebijakan transportasi yang dilakukan tidaklah terlalu fundamental, disebabkan kuatnya aturan baku perkotaan yang telah terbentuk sejak Periode Taisho di awal abad ke-19. Dalam peraturan ini, terutama pemintakatan (zoning) dan pengaturan kembali lahan (land readjustment) secara prinsip tak banyak berubah hingga saat ini. Dewasa ini, upaya pengetatan syarat bagi bahan buangan kendaraan, pengoptimalan penggunaan jalan yang ada, atau pengoptimalan penggunaan kendaraan umum adalah beberapa di antara regulasi yang umum ditemui di beberapa kota dalam upaya menyelaraskan transportasi dengan lingkungan.(Morichi, 2005)




Gb. 6 Revitalisasi Tranportasi Umum Menggunakan “Light Rail” di Kota Toyama, Jepang Barat yang Mampu Menaikkan Angka Penggunaan Transportasi Umum Sekaligus Memicu Aktivitas dan Pembangunan Baru di Sepanjang Jalurnya (foto: pribadi).



Untuk tingkat lokal, seiring dengan menguatnya otonomi daerah sejak Pemerintahan Perdana Menteri Koizumi Junichiro (2001-2006), kebijakan-kebijakan kota dan daerah seperti yang diindikasikan Yagi (2004), benar-benar variatif, beberapa di antaranya mampu memicu kreativitas kota untuk mengantisipasi tuntutan dan perubahan kondisi yang ada. Selain itu, terjadi kecenderungan yang disinyalir oleh Niikawa (2001) sebagai jalan menguatnya entitas masyarakat dalam pembangunan daerah. Ini terbukti bahwa partisipasi masyarakat dalam menentukan arah kebijakan wilayah mereka tampak makin menjadi sebuah prioritas, misalnya lewat pembangunan (oleh) masyarakat atau lebih dikenal dengan istilah machizukuri di Jepang (Watanabe, 2006).



Beberapa di antara kebijakan lokal ini mampu menjadi bahan masukan bagi pengambil kebijakan di tingkat nasional atau pun sebagai materi belajar daerah lain. Sebagai contoh seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 6 adalah suksesnya revitalisasi transportasi publik di Toyama (PORTRAM), sekaligus upaya mendorong kebijakan Transit Oriented Development (TOD). Meskipun begitu, Trinity Reforms yang didominasi oleh upaya “penyapihan” keuangan daerah dari ketergantungannya dengan pusat itu bagi wilayah-wilayah kecil dengan keterbatasan potensi hanya menyisakan sebuah beban tambahan yang begitu berat.



4.  Penutup



Tautan morfologi, transportasi, dan lingkungan di Jepang telah mencapai taraf lanjut dengan implementasi kebijakan yang selaras antar ketiga matra ini. Beberapa perubahan yang tengah terjadi baik di lokal Jepang maupun global telah mampu ditransformasikan ke dalam suatu arahan kebijakan besar yang telah dan siap diimplementasikan lebih lanjut. Meskipun mempunyai latar belakang mapun substansi yang sama sekali berlainan dan banyak tahapan masyarakat Jepang yang belum dialami oleh Indonesia misalnya, namun strategi mereka mengemas dan mengelola wilayahnya dengan karakter yang spesifik tentu akan mampu sebagai sumber inspirasi serupa di kemudian hari.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS