Blog Archive

RSS

About Me

Foto saya
segalanya jadi indah saat datang tepat pada waktunya

FanFic #3

CHAPTER 1


Sekarang umurku sudah masuki seperempat abad. Usia yang memang tak lagi muda apalagi remaja. Bahkan,di usiaku sekarang ini, aku sudah menikah dee !. Dengan siapa ? kalau kau adalah sahabat-sahabat terdekatku, dan datang pada pesta pernikahanku 3 bulan yang lalu..kau pasti akan tahu dengan siapa aku menikah !
Surprised !. Tak banyak yang mengira dan menyangka bahwa pernikahanku adalah pernikahan lintas budaya. Aku yang notabene pure melayu asli, menikah dengan orang dari pulau jauh seberang...ras bermata sipit! Yang tak pernah kubayangkan, bahkan kumimpikan seumur hidupku!.Korea !.ya, suamiku orang korea, lebih tepatnya korea selatan. Nama aslinya lee jun ki, dari keluarga lee. Dia keturunan asli hanguk (sebutan untuk orang korea). Parasnya ?mm...mata sipit ?jelas..putih ?untuk ukuran kita orang indonesia,putih bangettt...(makanya aku kadang rada minder jalan ma dia,jadi kontras.padahal di kalangan teman-temanku, kulitku sudah terbilang “putihnya indonesia”.Jadi, bisa kau bayangkan seputih apa kulit suamiku itu). Selebihnya ?
Hal yang membuatku paling ngerasa adore banget adalah...he has the brightness smille ever i seen !. dari dulu c, aku emang suka ma cowok yang punya senyum bagus, ditunjang ma phisic tipikal ku (yang gak gendut, cukup stylish, lebih tinggi dariku, dan pastinya...smart!)Plus tambahan penting_aku suka cowok mata sipit !.
How lucky i am...
Pernikahanku dihadiri hanya oleh kerabat terdekatku. Keluarga suamiku ?big surprised...lumayan banyak juga yang datang (i mean, ketika pernikahan bergiliran dilaksanakan di tanah kelahiranku).hanya saja, bisa kau tebak, betapa sangat anehnya mereka terlihat (keluarga suamiku). Kontras sekali dengan orang-orang disekitarku. Dan tentunya sedikit merasa kesulitan dalam hal komunikasi.Bisa dihitung dengan jari, di keluarga ku yang bisa berkomunikasi dalam bahasa inggris, apalagi korea ! (pengecualian, aku pastinya).Untungnya, aku dan suamiku,memutuskan untuk menyewa translator khusus untuk stanby bersama keluarga suamiku sepanjang mereka berada di indonesia.
Dan minggu depan, ya...giliran aku dan keluarga ku yang akan berangkat ke sana.Seoul.Tapi rencananya, upacara pernikahan kita tidak dilangsungkan di seoul (atas dasar pertimbangan betapa kota ini tak begitu kondusif untuk sebuah acara keluarga yang hommy), melainkan di tempat asal keluarga lee.
Yang akan datang, orang tua ku, dan dua kakak laki-laki dan perempuan, serta kakak ipar ku yang pastinya. Selebihnya, mengingat betapa jauhnya indonesia-seoul, dan perbedaan musim yang significant, maka keputusan keluarga akhirnya memilih untuk tak semua ikut.
Oya, dan satu lagi..sahabat terdekatku !.Amel dan Koko !.
Rencnaya, pada pesta pernikahan nanti...untuk pertama kalinya, aku akan dirias se-korea mungkin, ala pengantin korea, dengan hanbok warna terangnya.Begitu juga dengan suamiku.
Sudah tak sabar rasanya menanti saat itu..saat di mana dua orang, dua keluarga, dan dua bangsa dipersatukan ! dalam suatu ikatan sakral,ikatan Tuhan!.
Thanks God !
*-*-*
Persiapan pernikahan di korea ternyata tak serumit dibandingkan kultur indonesia.Tak ada istilahnya perayaan 7 hari 7 malam berturut-turut, hidangan ala kadarnya, dan riasan dekorasi yang tak se-wah dibandingkan saat perayaan pernikahanku di indonesia.
Jadi wajar, betapa mom sedikit shocked dengan apa yang dialaminya di sini. Dan ini tentu saja, berikutnya kujelaskan dengan seksama mungkin, bahwa beginilah adat mereka.Dan mereka pun bisa saja merasakan hal yang sama, ketika menyaksikan pemandangan yang kontras ketika di Indonesia.Bukan berarti perbedaan tersebut merupakan perwujudan antusiasme penyelenggaraan.
Hanya saja, satu hal yang dari jauh-jauh hari telah kubicarakan dengan lee jun ki, bahwa..mengingat keluargaku adalah muslim, jadi perayaan minum soju (minuman alkohol khas korea) kuharap ditiadakan. Sedikit menghindari kemungkinan salah interpretasi dari pihak keluargaku.Dan thanks God, ternyata pihak keluarga suamiku pun ternyata juga berpikiran yang sama.Dan ini juga menjadi bukti betapa telah diterimanya diriku di keluarga besar Lee !.
Persiapannya sendiri tak memakan waktu sehari, karena semuanya memang telah dipersiapkan oleh adik iparku satu-satunya,lee hyo ri, terpaut dua tahun dibawah usiaku.Betapa beruntungnya diriku,mendapatkan keluarga yang benar-benar tidak hanya menerimaku, tapi juga menerima keluarga besarku.Terlihat bagaimana keluarga pihak suamiku mencoba untuk menjamu dan memperlakukan mom dan dad untuk merasa betah selama mereka berada di korea. Salah satunya tradisi membuat kimchi bersama. Dan oh, mr.kim (translator lingua keluarga) sangat kerepotan sekali karena harus menerjemahkan obrolan mereka dalam waktu yang tak lama,dan pastinya harus diterjemahkan mengikuti feel yang ada.Dan kulihat,ia pun juga menikmati obrolan panjang tersebut, karena baik indonesia maupun korea, kedua-duanya adlah bidang yang diminati dan dikuasai oleh mr.kim.
“Kita tak ikut membuat kimchi bersama mereka ?”
Tanyaku pada onew,panggilan akrab suamiku_disuatu siang ketika kami lagi beristirahat di sebuah gazebo tak jauh dari rumah utama keluarga.Hanya ada aku dan suamiku.Setelah sejam yang lalu, sibuk dengan aktivitas membersihkan seluruh rumah,karena besok pernikahanku akan di gelar. Rumah_tempat di mana acara besar ini digelar sebenarnya merupakan rumah keluarga lee.Peninggalan leluhur,karena rumah ini hanya digunakan pada saat acara keluarga berlangsung.Salah satunya,upacara dan pesta pernikahan.Diluar acara-acara itu,rumah ini tidak pernah ditempati.jadi wajar saja,ketika datang ke sini,kondisi rumah sedikit memerlukan upaya pembenahan.
Rumah ini ibarat rumah gadang bagi keluarga minang (kalau di Indonesia).Dengan luas yang cukup menampung hampir 4x rumahku di Indonesia, arsitektur rumah kuno tradisional korea dengan ciri khas tiang-tiang rumah di setiap sekian meter teras depan rumah_penyekat dinding kayu geser tiap-tiap ruangan,membuat suasana kental korea semakin terasa.
“Kau mau ikut membuat kimchi ?” tanyanya sambil matanya tak luput dari daftar nama-nama tamu yang akan datang.Salah satunya sahabat-sahabatnya, jonghyun,taemin,key,dan minho.
“Kalau kau lebih membutuhkanku untuk masih berada di sini_sepertinya lain kali saja”ucapku diiringi senyum khas onew.
“Apa key akan datang untuk besok ?” tanyaku ketika menyadari bahwa salah satu sahabat,yang berkemungkinan tidak akan datang adalah key_karena berhalangan hadir di kanada.
“Aku sudah mengusahakannya,hon..kita tinggal menunggu kabar darinya” ucap onew padaku.Aku tahu dia tahu bagaimana kekhawatiranku.Karena key,dan ketiga anggota shinee lainnya adalah tamu yang sangat kuharapkan hadir pada pernikahan kami kelak.Tanpa mereka lengkap, acaranyapun diperkirakan tidak akan semeriah dan sehangat seperti apa yang kami harapkan.
Onew merangkulku erat.Sedikit banyak aku merasa tenang,setidaknya.
Kubalas dekapannya erta,kupandangi wajahnya,dan onew mambalasku dengan hal yang sama,dengan seulas senyum khasnya.
“Kamsa...”bisikku pelan ditelinganya.
*-*-*
“Kau yakin tidak ingin kuantar ?”onew bertanya kepadaku,satu menit sebelum kulangkahkan kaki menuju N-tower,seoul.Tujuanku ke sana tak lain,aku ingin menjemput amel dan ako yang baru saja tiba di korea,satu jam yang lalu.karena sebelumnya begitu kukabari bahwa saat ini aku tak sedang berada di soeul,maka telah kusarankan agar mereka beristirahat sejenak di seoul,dan N-tower merupakan tempat yang paling strategis untuk transit sejenak.sembari menunggu kedatanganku untuk menjemput mereka ke daejon.
“tidak usah,hon..aku bisa sendiri.dan aku tidak ingin merepotkanmu.bukankah hari ini paman jihoo datang ke sini ?kau sambutlah ia” ucapku begitu kulihat betapa khawatirnya suamiku itu begitu tahu bahwa aku akan pergi seorang diri ke seoul.
“dan ini bukan kali pertamanya aku ke sana” lanjutku pula.
Aku tak begitu yakin dengan apa yang kuucapkan barusan.Tapi setidaknya, perubahan yang kulihat pada mimik wajahnya membuatku yakin bahwa ia pasti bisa melepasku pergi sendiri,dengan kepercayaannya.
“well...baiklah,tapi kau harus berhati-hati...kalau ada apa-apa,lupa jalan pulang,beritahu aku..”
Ucap onew sembari memelukku erat.Terlalu sedikit beresiko memang,mengingat besok adalah hari pernikahan kami.Tapi di sisi lain aku pun akan merasa sedikit sungkan,karena beberapa jam lagi,keluarga besar onew dari pihak ibu akan segera datang.
“Hon,korea bukan indonesia,aku yakin i’ll be okay”
Onew melepasku seperti biasanya.
Dan tak lupa kukabari perihal ini pada pihak keluarga yang lain.Dan mengabari bahwa aku akan kembali secepat mungkin.
Kulangkahkan kaki menuju naekdongsae terdekat.Onew ikut mengantarku hingga pemberhentian trem terdekat.
Beberapa menit setelah itu kulambaikan tanganku padanya yang lambat laun telah hilang dari pandangan mataku.Trem membawaku sedikit menjauh.Dibutuhkan waktu kurang lebih 45 menit untuk mencapai seoul,yang kemudian dilanjutkan 5 menit menuju tempat berhentian trem tepat di depan N-tower.
Hari ini rumah keluarga adat lee akan semakin ramai.Selain keluarga kerabat lee akan datang ke daejon,satu jam yang lalu,onew mengabariku bahwa beberapa anggota shinee yang lainnya pun akan datang ke daejon.Entah apakah beberapa di antara mereka adalah dongsaeng taemin,key,jonghyun,atau minho.
Aku memandangi langit di atas sana.Tanpa kuduga sebelumnya langit gelap pekat ternyata telah menaungi mungkin hampir sebagian besar kawasan daejon ke utara,dan bisa saja hingga kota seoul.Dan aku, tak membawa sedikit persiapan apapun.
*-*-*
Tess.
Butiran besar dari langit jatuh tepat saat kulangkahkan kaki keluar dari naekdongsae trem perbatasan masuk kota seoul.Diikuti kemudian hujan pun turun begitu derasnya,mengguyur basah kota seoul pada sore hari itu.Beberapa orang yang tak tahu bahwa hujan akan turun dengan sebegitu lebat dan tiba-tibanya,dan masih berada di sepanjang jalan kota,tampak kewalahan,berlari menuju tempat berteduh.begitu juga dengan diriku.Tak ada payung,hanya sebuah mantel.Dan itu pun tanpa penutup kepala.Yang berarti,jika aku kalah langkah saja dengan tetesan air hujan ini,maka bersiaplah guyuran ini akan membasahiku.
Kulangkahkan kaki menuju tempat terdekat di mana bisa kutuju untuk berteduh.Tapi sampai beberapa langkah ini melaju,semuanya penuh.Seoul merupakan kota dengan bangunan terdesaign tanpa teras kebanyakan.Kalaupun ada,itu tak lain hanya pelataran depan sebuah kedai minum,dan itu artinya jika harus singgah di sana,barang tidak harus memesan secangkir atau dua minimal minuman.Dan ini,tentu akan menambah lama waktu perjalananku menuju N-tower yang harus kulewati dengan sekali perjalanan dalam trem lagi.Dan untuk mencapai naekdongsae terdekat,setidaknya 200 meter lagi.Tidak untuk perjalanan dalam sedikit badai hujan seperti ini.
Kulangkahkan lebih jauh lagi.Dan hujan pun makin turun semakin lebatnya.Tak biasanya begini.
Kucari pohon terdekat,setidaknya mampu mengurangi tetesan air yang mengenaiku,meskipun sekarang sebagian besar hujan telah membasahi mantelku.
Baru beberapa langkah dari tempat tersebut,seseorang kusadari menatap ke arahku.Sepertinya aku mengenalinya,dan...
“Unnie” panggilnya pelan dengan suara beratnya.Dan semakin dekat,aku tahu bahwa orang itu adalah,
“Minho ?? bagaimaa bisa kau berada di sini ?” tanyaku seketika,karena ku tahu,lelaki yang menyapaku barusan,adalah seseorang yang telah lama tak kutemui dalam sebulan belakangan ini.
Minho tersenyum singkat. Pakaiannya basah,.Sama sepertiku,hanya sebuah tas tangan terselip dibalik himpitan lengannya.
“Benar dugaan saya,saya akan berjumpa dengan unnie lagi di sini”
Ada binar terpanacar dari mata minho.dan membuat langlahku sedikit terhenti sesaat.
*-*-*
“Silahkan masuk”
Pintu sebuah flat dengan nomor 43 berwarna khaki berada persis di hadapanku.Flat sederhana berwarna putih terang,masih kelihatan baru dari warna dan baunya yang khas.
“Di sini saya tinggal selama beberapa bulan belakangan ini”
Minho melepas sepatunya yang ikut basah,menutup payung serta mengeluarkan sesuatu dari balik saku mantelnya.Sebuah kunci.Dan lantas membuka pintu dengan bunyi kreett.
“Mari masuk”
Minho menyilakan aku untuk terlebih masuk ke dalam ruangan yang bagiku baru pertama kali ini memasukinya.yang di dalamnya sama putihnya,sederhana.
Ada perasaan lain pada langkah pertamaku.Dekorasi renda di tiap meja serta tirai pemisah antar ruangan seolah tak begitu asing bagiku.
“Aku menuruti saranmu,unnie.Dan benar saja,semua ini membuatku menemukan sesuatu yang baru setiap awal harinya”
Aku menoleh.minho baru saja meletakkan sepatuku di rak kecil di belakang pintu menuju dapur. Ada perlengkapan masak di sana,tak ada satupun bekas makanan tertinggal di tiap sudut meja masak ataupun meja makan kecil di seberangnya. Ada satu meja kecil dengan taplak kain putih rajutan.Mataku terpaku pada hal yang baru saja kulihat.
“Terimakasih kau mau menggunakannya” ucapku.Rajutan itu adalah hadiah ulang tahunku padanya di tahun yang lalu.
Minho memamerkan deretan gigi putihnya.
“kau belum mengganti pakaianmu yang masih basah”
“yah..mian,”
Minho meninggalkanku di ruang tamu kecil flatnya.Entah kemana,mungkin mengganti bajunya untuk beberapa saat.
Mataku memandang ke sekeliling.Hujan masih turun begitu derasnya di luar.Rembesan air hujan menjamah kaca jendela,terhalang korden yang sama putihnya pula.Ada satu hal yang menarik minatku pada apa yang kutangkap barusan.Di dinding terdapat beberapa bingkai foto kayu mahoni cokelat muda.Aku tahu,demikianlah selera minho.Tak terlalu begitu suka dengan sesuatu yang mewah.Tapi anehnya,justru tak ada sesuatu di dalam sana !.Tak ada foto, lukisan,atau gambar sesuatu pun pada bingkai itu..,
Begitu juga dengan vas bunga yang tergeletak di atas meja berkaki rendah.Tak ada bunga di dalamnya,
“mengapa kau,”
“kau bisa mengganti pakaianmu dengan ini”
Aku terkejut.minho telah berada di sampingku.
“apakah aku mengagetkanmu barusan ?”
Aku mengelus dadaku.tentu saja.
Minho tertawa melihat tingkahku barusan.dia tahu,aku paling tidak bisa jika tiba-tiba saja hadir dan membuyarkan apa yang baru saja kupikirkan.
“mian unnie.” Dan lagi-lagi ia tertawa pelan.
“gantilah pakaianmu.kau bisa masuk angin jika berlama-lama dengan pakaian basahmu”
Minho menyodorkan satu stel pakaian yang ku tahu itu pasti bukan pakaian wanita.dan benar saja,ketika ku ambil,ada satu buah kemeja putih ukuran sedikit lebih besar dari ukuranku,dan satu buah celana kain, yang telah bisa kuterka pasti akan kepanjangan untuk kupakai.
“tenang saja,itu bukan ukuranku.meskipun,mungkin tetap saja ukuran itu belum tentu juga pas untuk mu”
Aku melongo heran.tapi sudahlah,toh setidaknya aku bisa pulang dengan pakaian kering.
“kau bisa menggunakan kamar mandi di belakang sana untuk berganti pakaian.tapi,”
Minho menghentikan ucapannya.
“tapi kenapa ?” tanyaku heran.
Minho diam sejenak.ada sesuatu yang ingin diucapkannya.
“tidak,..tidak apa-apa.maksudku,kalau kau perlu sesuatu yang lain,katakan saja”
Ternyata..,
“kupikir..,.sudahlah,aku sudah tak tahan dengan dingin ini”
Aku berlalu meninggalkan minho yang bagiku masih ada sesuatu yang ingin diucapkannya.Mungkin saja sesuatu tertinggal di dalam kamar mandinya,dan lupa untuk diambilnya,begitu tahu bahwa aku akan menggunakan kamar mandi itu.Hatiku terkikik geli.Tapi sudahlah,
Aku menoleh.minho masih terpaku di sana.
“ada yang mau kau ambil sebelum aku menggunakan kamar mandimu ?” tawarku.
Tapi minho memberi isyarat_nothing.Dan akupun berlalu
*-*-*
Atami merapatkan tangannya lebih erat pada permukaan cangkir yang berisi cokelat panas buatan minho.Udara terasa semakin dingin,meniupkan bulu kuduk,masuk lewat celah lubang jendela yang dibiarkan setengah terbuka.
Sementara minho hanya sesekali menyeruput isi dalam cangkirnya,membiarkan kuap panasnya menyentuh pelan hidungnya,yang hanya berjarak sekian centimeter dari bibir cangkir.
Keheningan menyergap dari satu menit terakhir setelah minho menawarkan minuman panas itu pada atami yang baginya terlihat menggigil sekalipun sudah berganti pakaian.Yang ada hanya bunyi jarum jam di dinding tepat di belakangnya,yang berbunyi tikk saat bergeser dari angka satu ke angka sebelahnya.
Hujan baru saja berhenti beberapa detik yang lalu.Menyisakan udara basah bercampur semburat hangatnya matahari sore.Menyelusup melalui celah-celah dedaunan di seberang bawah sana.
“Aku suka dengan cuaca seperti ini” keheningan pun akhirnya terpecahkan.
Atami menggeser duduknya perlahan,untuk menjangkau lebih dekat lagi dengan jendela yang menghadap ke tepi sungai yang berada persis di sebelah flat yang ditempati minho. Merasakan sedikit angin yang menerpa anak rambutnya membuatnya tahu persis bahwa telah lama ia tak merasakan hal seperti ini semenjak keberadaannya di korea beberapa saat terakhir ini.
Minho hanya mengamati dari balik sudut matanya,yang ditangkap oleh atami justru seperti sedang tak bergeming pada apa yang baru saja di ucapkannya.Pernyataan retoris.Bagi minho,tiap perkataan yang dikeluarkan sepelan apapun dari atami,ia dapat mendengarnya.
Atami terlihat berbeda kali ini.Bahkan dibanding dengan saat terakhir kalinya mereka bertemu di tempat yang sama.Minho tak ingat, persisnya kapan.
“Aku kangen pulang” ucap atami pelan.
Minho terkikik pelan,nyaris tak terdengar,kalau saja berhasil dikalahkan bunyi detak jarum jam dinding di belakangnya.
Atami menoleh.
“Hey,aku serius.Kalau saja saat ini__”
Atami menghentikan ucapannya.Ia tahu,sesuatu baru saja akan dikeluarkannya kalau saja ia tak ingat pada apa yang mungkin saja ditanggapi seorang minho padanya jika perkataan itu akan keluar sempurna dari mulutnya.
Minho menoleh.Menunggu detik saat atami melanjutkan ucapannya barusan.
“kalau saja...kalau saja aku lupa kalau onew tentu tak akan mengizinkanku untuk kembali ke indonesia”
Atami semakin menggeser duduknya secepat yang dia bisa.Tapi terlambat,minho keburu tahu apa yang baru saja didapati dari perubahan ekspresi pada atami.
Minho membenamkan pandangannya pada lingkaran latte panas yang kini krimnya malah tak berbentuk.sperti perasaannya saat ini.Onew...lagi-lagi nama itu disebut,meskipun ia tahu,terkadang tak selamanya ia harus berjibaku pada perasaan ini.Bukankah,semuanya sudah jelas,bahwa kesempatan baginya benar-benar hilang.
Atami menoleh ke langit lepas.Hamparan langit biru luas yang tak berawan,kini terasa makin membuat perasaannya lapang.Ia tahu jauh di sana,seseorang tengah menanti kepulangannya.Tapi entah kenapa,ia tetap saja tak bergeming,merasakan tiap detik berlalu,tanpa mengubah sedikitpun niatnya untuk beranjak dari tempat ini.
Ia tahu,dari arah pandangan mata lainnya,di balik pantulan kaca jendela yang tertimpa sinar matahari sore_minho pun tengah menatap ke arahnya.Tanpa disadarinya.
Perasaan itu untuk kesekian kalinya terulang...entah harus bagaimana lagi dia menyikapinya.semuanya terasa kosong,
Dan refleks,minho mendekap atami dari belakang,membuatnya tak mampu bernafas bahkan untuk satu tarikan pun,
“Tolong,jangan pergi...”
Atami tak melepas atau pun mempererat dekapan itu.Matanya menatap kosong ke depan,
Ia tahu,dirasakannya dekapan itu makin tak mengendur.
Atami memejamkan matanya perlahan,mencoba mencari satu bayangan wajah yang akan muncul pada pikirannya kali ini,
Tapi semua tetap terasa___kosong.
*-*-*

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar